Oleh: Muslimin M.
Akademisi
PAGI ini terasa berbeda, langit bahkan belum sepenuhnya terang. Ketika, jalan di depan rumah saya mulai hidup. Beberapa anak muda, mengenakan jersey tim favoritnya. Ada yang membawa syal, membawa terompet kecil, ada pula yang sudah sibuk memperdebatkan siapa yang akan mengangkat trofi.
Mereka berjalan tergesa-gesa, menuju warung kopi dan kafe yang sejak dini hari telah menyiapkan layar besar.
Hari ini, adalah final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina.
Pertandingan, yang hanya datang sekali dalam Empat Tahun. Sebuah peristiwa yang mampu menghentikan sejenak, hiruk-pikuk dunia. Jutaan orang, rela mengurangi waktu tidurnya demi menyaksikan Sembilan Puluh Menit yang akan dikenang dalam sejarah sepak bola.
Saya pun, tidak ingin melewatkannya.
Namun subuh pagi ini, sebelum suara komentator memenuhi layar televisi. Ada panggilan lain yang lebih dahulu saya dengar, Adzan Subuh.
Saya melangkah menuju masjid dekat rumah, seperti biasa. Udara masih sejuk, jalanan belum terlalu ramai. Di dalam masjid, saf-saf mulai terisi. Tidak penuh, tetapi cukup untuk menghadirkan ketenangan yang selalu sulit saya jelaskan dengan kata-kata.
Beberapa menit kemudian, shalat subuh selesai.
Saya berjalan, menuju sebuah kafe di dekat rumah saya. Disana, suasananya benar-benar berbeda, sorak-sorai mulai terdengar. Aroma kopi, asap rokok bercampur dengan antusiasme para penonton. Semua mata, tertuju ke layar besar. Ketika pertandingan dimulai, ruangan seolah berhenti bernapas.
Saya ikut menikmati, setiap menitnya.
Saya ikut bertepuk tangan, ketika sebuah peluang tercipta. Saya pun ikut tegang, ketika serangan demi serangan datang silih berganti.
Namun, di sela-sela riuhnya pertandingan itu. Pikiran saya, justru kembali kepada perjalanan singkat beberapa menit sebelumnya.
Dari masjid menuju kafe, dari lantunan azan menuju gemuruh tepuk tangan.
Saya, tersenyum sendiri. Ternyata, kita tidak selalu harus memilih antara menikmati kegembiraan dunia dan memenuhi kewajiban kepada Allah SWT. Bahwa yang kadang dibutuhkan, hanyalah menempatkan keduanya pada urutan yang benar.
Shalat, lebih dahulu. Baru kemudian, menikmati pertandingan. Cukup sederhana, sebetulnya. Tetapi, justru disitulah letak pelajaran yang saya bawa pulang pagi ini.
Islam, tidak mengajarkan kita membenci hiburan. Islam juga tidak melarang kita mencintai olahraga. Bahkan, kegembiraan adalah bagian dari kehidupan yang patut disyukuri. Namun, jangan sampai kegembiraan itu membuat kita menunda panggilan yang datang dari langit.
Final Piala Dunia akan selalu berakhir, peluit panjang akan dibunyikan dan trofi akan diangkat. Pun sorak-sorai, akan perlahan menghilang.
Empat tahun lagi, dunia akan menunggu final berikutnya. Tetapi, azan Subuh akan kembali berkumandang esok subuh, lusa subuh. Dan setiap subuh, selama Allah SWT masih memberi kita umur panjang.
Subuh pagi ini, saya menyadari bahwa kemenangan sejati bukan hanya milik tim yang mengangkat piala.
Kemenangan yang sesungguhnya, adalah ketika kita mampu menjaga hati agar tidak terlambat memenuhi panggilan Allah. Lalu menikmati, nikmat dunia tanpa melupakan siapa yang telah menganugerahkannya.
Mungkin, itulah kemenangan yang tidak pernah dicatat dalam statistik pertandingan. Tetapi, selalu dicatat dengan sempurna oleh pencipta langit. Allah SWT. ***