Oleh: Muslimin M.
Akademisi
MALAM ini, saya kembali duduk di poli jantung. Ruang tunggunya, tidak terlalu ramai. Namun, setiap wajah menyimpan kisah yang berbeda.
Ada yang sesekali memegang dada, seolah memastikan jantungnya masih berdetak dengan tenang. Ada juga yang menggenggam erat, hasil EKG dan lembar-lembar pemeriksaan dan ada pula yang memilih diam, menatap lantai, larut dalam percakapan yang hanya dia dan Tuhan yang mengerti.
Saya, ikut menunggu.
Menunggu di tempat seperti ini, terasa berbeda. Waktu berjalan lebih lambat. Setiap nama yang dipanggil, membawa harapan sekaligus kegelisahan.
Sebab, tak seorang pun benar-benar tahu kalimat apa yang akan diucapkan dokter beberapa menit kemudian.
Saya pernah berada di titik, ketika jantung memberi peringatan. Sejak saat itu, saya mengerti bahwa ruang tunggu poli jantung bukan sekadar tempat antre berobat. Karena, ruang itu adalah ruang yang mengajarkan kerendahan hati.
Disini, jabatan kehilangan wibawanya. Kekayaan, tak lagi tampak istimewa. Pun, gelar akademik tak membuat denyut nadi menjadi lebih teratur. Semua orang duduk sejajar, disatukan oleh satu harapan yang sama. Semoga semuanya, baik-baik saja.
Jantung, memang guru kehidupan yang luar biasa. Jantung, bekerja tanpa pernah meminta upah. Berdetak siang dan malam, tanpa mengenal hari libur. Kita sering lupa menghargainya, sampai suatu hari mulai mengirimkan isyarat. Bahwa, ada yang tidak lagi baik-baik saja.
Barulah kita sadar, bahwa selama ini kita terlalu sibuk mengejar kehidupan. Tetapi, sering lupa menjaga sumber kehidupan itu sendiri.
Kita mengejar karier, jabatan dan pencapaian. Kita membanggakan kesibukan, seolah semakin lelah berarti semakin berhasil. Kita juga menunda istirahat, mengabaikan olahraga, makan seadanya bahkan membiarkan pikiran dipenuhi stres yang tak berkesudahan.
Tubuh, sebenarnya selalu berbicara. Hanya saja kita sering memilih untuk tidak mendengarkannya. Sampai akhirnya, jantung berbicara dengan bahasa yang tidak lagi bisa diabaikan.
Malam ini, saya kembali belajar bahwa ternyata umur bukan tentang berapa lama kita hidup. Karena, umur adalah tentang bagaimana kita memaknai setiap kesempatan yang masih Allah berikan. Tentang, kemampuan mensyukuri napas yang masih teratur, langkah yang masih kuat dan keluarga yang masih dapat kita peluk.
Saya juga belajar, bahwa sehat bukan berarti tidak pernah sakit. Sehat, adalah ketika kita diberi kesempatan untuk memperbaiki cara hidup sebelum semuanya terlambat.
Oleh karenanya, jika malam ini saya masih bisa duduk di ruang tunggu ini, masih bisa mengirim kabar kepada keluarga dan masih bisa mengucapkan syukur. Maka, sesungguhnya saya sedang menerima nikmat yang tidak ternilai.
Tidak semua orang yang datang ke poli jantung, pulang dengan wajah lega.
Sebagian, pulang membawa kabar baik. Sebagian lainnya, harus memulai babak baru dalam hidupnya dengan lebih banyak obat, lebih banyak ikhtiar dan lebih banyak doa.
Diantara bunyi monitor, langkah para perawat dan panggilan nama pasien yang terus bergantian. Saya kembali diingatkan, bahwa hidup ini sesungguhnya rapuh.
Terlalu rapuh untuk diisi dengan kesombongan, terlalu singkat untuk dihabiskan dalam permusuhan dan terlalu berharga untuk disia-siakan.
Mungkin, itulah pelajaran terbesar dari malam ini. Bahwa, kita boleh memiliki mimpi setinggi langit, bekerja sekeras mungkin dan mengejar cita-cita sejauh yang kita mampu.
Tetapi, jangan pernah lupa merawat tubuh yang Allah titipkan. Terutama jantung yang sejak hari pertama kehidupan, bekerja tanpa henti, tanpa keluhan dan tanpa pernah meminta tepuk tangan.
Sebab sejatinya, kebahagiaan yang paling mahal bukanlah memiliki segalanya. Melainkan, masih diberi kesempatan untuk membuka mata esok pagi, menghirup udara dengan lega, memeluk orang-orang yang kita cintai dan mendengar jantung ini tetap berdetak dengan setia. Alhamdulillah***