Oleh: Dr. Muslimin M.
Akademisi
BANGKU-BANGKU kosong itu, masih terbayang dalam pikiran saya. Tiga Murid, bukan Tiga Puluh. Apalagi, Tiga Ratus. Hanya, Tiga.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, apa yang sesungguhnya sedang kita saksikan hari ini. Apakah, ini sekadar penurunan jumlah Murid. Ataukah kita sedang menyaksikan, sebuah titik balik dalam sejarah pendidikan negeri ini?.
Saya cenderung, memilih jawaban yang kedua. Karena, sesungguhnya yang sedang berubah bukan hanya sekolah. Melainkan, kita Masyarakat.
BPS menunjukkan, bahwa Indonesia sedang memasuki masa transisi demografi. Angka kelahiran terus menurun, dibandingkan beberapa dekade lalu. Konsekuensinya, sederhana. Tetapi, sangat besar. Bahwa, jumlah anak usia sekolah dasar akan semakin berkurang, dalam beberapa tahun ke depan.
Itu artinya, bahwa sekolah tidak lagi bisa mengandalkan banyaknya anak yang lahir setiap tahun. Sekolah, harus mulai bersaing. Bukan berebut murid, melainkan berebut kepercayaan.
Disisi lain, Masyarakat juga berubah. Jika dahulu, orang tua murid menerima apa adanya sekolah yang tersedia di sekitar rumahnya. Maka kini, mereka memiliki banyak pilihan. Informasi tersedia di ujung jari, media sosial memperlihatkan budaya setiap sekolah. Prestasi, metode belajar, bahkan cara guru berinteraksi dengan murid dapat diketahui sebelum orang tua murid datang berkunjung.
Sekolah, kini hidup dalam era keterbukaan. Dan dalam era seperti ini, reputasi dibangun bukan oleh spanduk yang dipasang di depan gerbang. Tetapi, oleh pengalaman nyata para murid dan orang tua.
Direktur Pendidikan OECD, Andreas Schleicher. Mengatakan, bahwa tantangan terbesar sekolah abad ke-21 bukan lagi mengajarkan murid menghafal. Melainkan, membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, beradaptasi dan terus belajar sepanjang hayat.
Kalimat itu, terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini.
Bahwa hari ini, kecerdasan buatan mampu menjawab soal-soal hafalan hanya dalam hitungan detik. Jika, sekolah masih hanya mengajarkan hafalan. Maka, sesungguhnya sekolah sedang berlomba dengan mesin.
Dan kita tahu, siapa yang akan menang. Karena, yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan adalah karakter, empati, kreativitas, kepemimpinan dan kemampuan bekerja bersama dengan orang lain.
Disitulah, seharusnya sekolah mengambil peran.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan OECD selama bertahun-tahun, juga memberi pesan yang sama. Kemampuan literasi membaca, matematika dan sains siswa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dibandingkan rata-rata negara OECD.
Data itu, sering membuat kita kecewa. Padahal, seharusnya data tidak membuat kita putus asa.
Data, seharusnya membuat kita berubah. Karena, angka bukan untuk diperdebatkan. Angka, adalah cermin.
Ekonom pendidikan dari Stanford University, Eric Hanushek. Melalui berbagai penelitiannya, menunjukkan bahwa kualitas guru merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilan belajar siswa.
Bukan gedung, bukan pula pagar atau cat tembok apalagi pendingin ruangan, melainkan guru.
Guru yang mampu menghidupkan rasa ingin tahu seorang murid, akan meninggalkan pengaruh yang jauh lebih besar daripada sekolah yang memiliki fasilitas mewah. Tetapi, pembelajarannya membosankan.
Mungkin karena itulah, banyak orang tua murid rela mengantar anaknya Puluhan Kilometer setiap pagi. Bukan sedang mencari bangunan, orang tua murid itu sedang mencari harapan.
Tentu saja, saya tidak ingin menyalahkan guru. Terlalu mudah mengatakan, mutu pendidikan rendah karena guru. Guru, juga bekerja di dalam sebuah sistem.
Kepala sekolah yang tidak memberi ruang inovasi, akan mematikan kreativitas guru. Birokrasi yang terlalu sibuk dengan administrasi, akan mengurangi waktu guru untuk merancang pembelajaran. Termasuk, budaya sekolah. Yang takut berubah, akan membuat semua orang memilih berjalan
di tempat.
Oleh sebab itu, bahwa transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada ruang kelas. Transformasi, harus dimulai dari kepemimpinan.
Michael Fullan, menyebutnya sebagai leading learning. Yaitu, kepemimpinan yang berpusat pada proses belajar. Bukan, sekadar mengurus administrasi. Dan kepala sekolah, bukan hanya manajer. Kepala sekolah, adalah penggerak budaya sekolah.
UNESCO, dalam laporan Reimagining Our Futures Together mengingatkan. Bahwa, masa depan pendidikan harus dibangun melalui kolaborasi, keadilan dan pembelajaran sepanjang hayat.
Sekolah, tidak cukup hanya menjadi tempat menyampaikan pelajaran. Tetapi, harus menjadi ruang yang menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian dan kemampuan hidup bersama, ditengah perubahan dunia.
Saya kira, inilah inti transformasi pendidikan. Bahwa, transformasi bukan sekadar mengganti nama kurikulum, sekadar membeli komputer baru, lalu memasang layar digital di setiap kelas.
Bahwa, transformasi pendidikan adalah perubahan cara berpikir.
Dari sekolah, yang merasa selalu benar. Menjadi sekolah, yang mau terus belajar.
Dari sekolah yang menunggu murid datang, menjadi sekolah yang aktif membangun kepercayaan masyarakat dan dari sekolah yang sibuk dengan administrasi, menjadi sekolah yang sibuk memikirkan masa depan muridnya.
Jika, saya diminta menyebutkan arah transformasi sekolah negeri hari ini. Mungkin, saya akan memulainya dari empat hal sederhana.
Pertama, membangun budaya sekolah yang ramah dan aman bagi setiap murid.
Kedua, menjadikan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Bukan, sekadar administrator.
Ketiga, meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan, memperkuat literasi, numerasi dan karakter secara seimbang.
Keempat, memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan sebagai alat bantu belajar. Bukan, sekadar pelengkap.
Tentu saja, saya tetap optimistis. Bahwa, sekolah negeri memiliki sejarah panjang membangun negeri ini.
Dari sanalah, jutaan anak dengan berbagai latar belakangnya belajar hidup bersama dan dari sana pula, kesempatan memperoleh pendidikan yang adil. Masih, dijaga.
Oleh sebab itu, sekolah negeri tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri menghadapi perubahan zaman.
Transformasi pendidikan, adalah tanggung jawab kita semua. Pemerintah, kepala sekolah, guru, orang tua, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat secara umum.
Bangku-bangku kosong, yang kita lihat hari ini. Jangan, hanya kita hitung sebagai statistik. Itu, adalah peringatan. Peringatan bahwa, kepercayaan harus dirawat setiap hari.
Saya percaya, bahwa ketika sekolah mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna, guru yang menginspirasi, kepemimpinan yang melayani dan budaya yang memanusiakan setiap murid nya. Maka, sesungguhnya kepercayaan itu akan kembali.
Dan ketika, kepercayaan itu kembali. Maka, murid-murid pun akan datang. Bukan, karena diwajibkan. Atau, karena tidak memiliki pilihan. Melainkan, karena orang tuanya yakin bahwa di balik gerbang sekolah negeri itu, masa depan anak-anaknya sedang dipersiapkan dengan ilmu, karakter dan harapan.
Sejatinya, sekolah yang hebat. Bukanlah, sekolah yang memiliki gedung paling megah. Melainkan, sekolah yang setiap pagi selalu dinanti oleh murid-murid untuk datang. Belajar, bertumbuh dan tentu saja bermimpi. ***