Oleh: Muslimin M.
Akademisi
SAYA terus mengingat sekolah kecil di atas bukit itu, bukan karena bangunannya, bukan pula karena jalannya yang berlumpur. Melainkan, karena hanya ada Dua Guru yang memikul beban pendidikan puluhan anak.
Di kota, Satu Sekolah bisa memiliki guru untuk setiap mata pelajaran. Di pelosok, Satu Guru kadang harus mengajar hampir semua mata pelajaran sekaligus.
Inilah, wajah ketimpangan pendidikan yang sering luput dari perhatian pemerintahan.
Kita, lebih sering menghitung berapa banyak sekolah yang dibangun. Daripada memastikan, apakah sekolah itu memiliki guru yang cukup. Padahal, bangunan dapat berdiri tanpa guru. Tetapi, pendidikan tidak.
Beberapa tahun terakhir, pemerintah mendorong transformasi pendidikan. Digitalisasi sekolah, pembelajaran berbasis teknologi dan kurikulum yang lebih adaptif, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan.
Semuanya, merupakan langkah penting. Namun, transformasi tidak boleh hanya diukur dari banyaknya perangkat digital yang dibagikan, aplikasi yang digunakan.
Transformasi yang sejati, adalah ketika seorang murid di pelosok memiliki peluang belajar yang sama dengan murid di kota.
Apa arti kelas digital jika jaringan internet tidak tersedia, apa arti pembelajaran berbasis teknologi jika listrik masih sering padam dan apa arti kurikulum yang semakin baik jika guru yang mengajarkannya tidak mencukupi.
Transformasi pendidikan, tidak boleh berhenti pada perubahan sistem, transformasi harus menyentuh pemerataan.
Pemerataan guru, pemerataan kualitas pembelajaran dan pemerataan infrastruktur, termasuk pemerataan akses.
Selama, sekolah-sekolah di pelosok masih kekurangan guru. Maka, transformasi pendidikan belum benar-benar selesai.
Bahwa, kualitas sebuah sistem pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya.
Kalimat itu, benar. Tetapi di banyak daerah, persoalannya rumit bahkan lebih mendasar. Bukan, hanya kualitas guru. Melainkan, keberadaan guru itu sendiri.
Oleh sebab itu, ukuran keberhasilan pendidikan bukan sekadar meningkatnya nilai asesmen nasional. Atau, bertambahnya sekolah digital.
Ukuran keberhasilannya adalah, ketika tidak ada lagi sekolah yang hanya memiliki Dua guru untuk mendidik puluhan anak.
Dan ketika, guru terbaik tidak hanya terkonsentrasi di kota. Tetapi, juga hadir di desa, di pulau-pulau kecil dan di perbukitan.
Saya masih mengingat Elis, seorang murid di desa itu.
Mungkin hari ini, dia masih berjalan melewati jalan berlumpur menuju sekolahnya.
Semoga suatu hari nanti, ketika dia benar-benar menjadi guru, mengajar di sekolah yang memiliki ruang kelas yang layak, rekan guru yang cukup, dan murid-murid yang tidak lagi harus berjalan sejauh, hanya untuk belajar.
Karena Indonesia Emas 2045, tidak akan lahir hanya dari sekolah hebat di kota.
Indonesia Emas akan lahir, ketika sekolah kecil di atas bukit, di tepi sungai, di pedalaman hutan dan di pulau-pulau terluar memperoleh kesempatan yang sama untuk maju.
Sebab, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa cepat kota bergerak. Melainkan, oleh seberapa jauh kita mampu membawa keadilan hingga ke sekolah yang paling jauh.***