11 Jul 2026 | Dilihat: 177 Kali

JERUK minum JERUK

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

KEMARIN pagi saya membeli Satu Kilogram jeruk, bukan karena sedang flu. Hanya, ingin saja makan buah itu. Penjualnya, ramah. Katanya, jeruk itu baru datang dari kebun. Manis, Saya percaya itu. Sesampainya di rumah, saya kupas satu dan memang manis.

 

Entah mengapa, justru saat menikmati jeruk itu, saya tiba-tiba teringat sebuah ungkapan lama, “Jeruk minum jeruk”.

 

Kalimat itu, sudah sangat tua. Namun, tidak pernah pensiun dan selalu menemukan "panggung baru".

 

Setiap kali saya membaca berita tentang aparat yang ditangkap aparat, pengawas yang diperiksa pengawas atau pejabat yang selama ini pasih berbicara tentang integritas. Tetapi, justru tersandung korupsi, saya selalu teringat pada kalimat sederhana itu.

 

Jeruk, ternyata benar-benar bisa memakan jeruk. Dan yang membuat saya sedih, bukan karena uang negara yang hilang begitu besar. Mungkin, uang itu bisa dicari lagi. Anggaran, bisa disusun kembali. Tetapi, yang jauh lebih sulit dikembalikan adalah kepercayaan. Ya, kepercayaan.

 

Saya kadang bertanya dalam hati, mengapa orang yang sudah memiliki jabatan, penghasilan yang layak, hidup mapan. Bahkan, penghormatan dari masyarakat. Masih tergoda, mengambil sesuatu yang bukan haknya?.

 

Apakah karena kebutuhan?. Saya kira, tidak selalu!.

 

Kadang, justru karena kekuasaan menghadirkan perasaan bahwa seseorang tidak akan tersentuh hukum. Disitulah, korupsi menemukan ruangnya.

 

Saya percaya, tidak ada orang yang langsung menjadi koruptor dalam satu malam. Korupsi, lahir dari kompromi-kompromi kecil. Dari membenarkan yang salah, dari membiarkan yang keliru. Dan bahkan, dari kalimat-kalimat yang terdengar biasa, "Semua juga begitu" atau "ini sudah tradisi."

 

Lama-kelamaan, hati menjadi kebal. Padahal, reformasi birokrasi yang kita bangun selama ini. Sesungguhnya, bertujuan memutus mata rantai itu. Sistem merit, digitalisasi pelayanan, pengawasan internal, hingga berbagai regulasi antikorupsi dibuat agar jabatan menjadi amanah, bukan peluang memperkaya diri.

 

Namun, saya juga belajar satu hal. Bahwa, sistem hanya bisa menjaga sampai batas tertentu. Diatas semua aturan, tetap ada satu benteng yang tidak bisa digantikan teknologi ataupun regulasi. Namanya, “hati nurani”.

 

Robert Klitgaard pernah mengingatkan bahw,  korupsi tumbuh ketika kekuasaan besar tidak diimbangi akuntabilitas yang kuat. Rumus itu, masih sangat relevan hari ini. Tetapi, saya percaya ada satu variabel lain yang tidak pernah bisa dimasukkan ke dalam rumus apa pun. Yaitu, karakter. Ya, karakter.

 

Karakter itulah, yang menentukan apakah seseorang tetap jujur ketika tidak ada yang melihat. Atau, tidak. Hari ini, setiap kali  mendengar kabar tentang kasus korupsi, saya tidak lagi hanya merasa marah. Saya, justru merasa khawatir. Jangan-jangan, yang sedang kita hadapi bukan lagi persoalan individu. Melainkan, budaya.

 

Dan, jika korupsi sudah menjadi budaya. Maka, menangkap pelaku saja, tidak akan pernah cukup. Karena, yang harus dibangun adalah budaya integritas, budaya malu, budaya merasa berdosa ketika mengambil yang bukan haknya.

 

Saya masih berharap, ungkapan “jeruk makan jeruk” atau "jeruk minum jeruk" suatu hari nanti, hanya tinggal menjadi pribahasa lama yang kehilangan makna. Karena, tidak lagi menemukan kenyataan. Sebab, negara ini terlalu indah untuk terus-menerus dipertontonkan ironi. Rakyat, juga terlalu sabar untuk terus-menerus dikecewakan.

 

Dan saya ingin tetap percaya, bahwa masih jauh dan lebih banyak jeruk yang memilih menjaga pohonnya. Daripada, merusaknya dari dalam. ***