21 Sep 2026 | Dilihat: 43 Kali

SULBAR Betambah Usia, Lalu Apa Yang Berubah

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

SORE itu, saya kembali teringat kampung halaman yang sudah lebih dari Tiga Puluh tahun saya tinggalkan. 

 

Semakin lama saya meninggalkan kampung halaman, terkadang justru semakin kuat ingatan kepada tanah kelahiran.

 

Saat berbicara tentang Sulawesi Barat, maka yang muncul di kepala saya bukan hanya Mamuju, Mamasa, Majene, Polewali, dan Pasangkayu. Atau laut, gunung, kebun kakao,  jalan-jalan yang pernah saya lewati.

 

Justru yang teringat, Sulbar adalah cerita tentang perjuangan.

 

Pada 22 September 2004, Sulawesi Barat resmi menjadi provinsi melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004. Pembentukan provinsi ini, merupakan buah dari perjuangan panjang masyarakat untuk memiliki pemerintahan daerah sendiri.

 

Kini, usianya memasuki 22 tahun.

 

Dua Puluh Dua tahun, bukan waktu yang singkat dan saya kira, setiap hari kelahirannya seharusnya tidak hanya diisi panggung, baliho, seremoni, dan ucapan selamat. Hari lahir, mestinya menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu bertanya.

 

Apa yang sudah berubah?

 

Pertanyaan itu penting, sebab usia sebuah daerah tidak otomatis menunjukkan kemajuan masyarakatnya.

 

Provinsi bisa bertambah tua, gedung pemerintahan semakin banyak. Jumlah aparatur bertambah, bahkan Anggaran terus dikelola. Tapi, ukuran akhirnya tetap penting. apakah, kehidupan rakyatnya semakin membaik.

 

Data terbaru, memberi gambaran yang menarik.

 

Ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan II 2026, tumbuh 5,20% dibandingkan periode yang sama, tahun sebelumnya. Secara kumulatif semester I 2026, pertumbuhan mencapai 5,27%. PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026, mencapai 19,21 Triliun.

 

Ini kabar baik, tapi pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti sebagai angka statistik. Kita, harus bertanya lebih serius.

 

Pertumbuhan itu tumbuh dimana, siapa yang menikmati, dan seberapa besar mengubah kehidupan masyarakatnya.

 

Pada 2025 lalu, ekonomi Sulbar memang tumbuh 5,36%. Namun pada saat yang sama, tingkat kemiskinan september 2025 masih 10,18% atau sekitar 149,88 Ribu orang. Bahkan, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan meningkat.

 

Disitulah, pembangunan harus dibaca dengan lebih hati-hati. Angka kemiskinan, boleh turun. Pertumbuhan boleh naik, tapi pekerjaan rumah belum selesai.

 

Sulbar, tidak kekurangan potensi. Ada pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, pariwisata, industri pengolahan, dan sumber daya manusia. 

 

Pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi salah satu motor utama ekonomi daerah. Namun, potensi tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan hanya karena kita memilikinya.

 

Potensi, membutuhkan kebijakan. Kebijakan, membutuhkan anggaran. Dan anggaran, membutuhkan keberanian menentukan prioritas.

 

Disinilah, tantangan Sulbar ke depan. Pembangunan, tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Jalan dan gedung memang penting, tapi kualitas manusia jauh lebih penting.

 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulbar pada 2025, mencapai 71,16. Angka ini, menunjukkan adanya kemajuan dalam dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. BPS juga mencatat, indikator IPM terus membaik.

 

Tetapi lagi-lagi, angka tersebut harus kita baca sebagai perjalanan, bukan garis akhir. Sebab, pendidikan tidak cukup hanya membuat murid-murid memperoleh ijazah.

 

Sekolah harus melahirkan murid-murid yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

 

Perguruan tinggi pun, tidak cukup hanya menghasilkan sarjana. Perguruan tinggi, harus melahirkan manusia yang mampu menciptakan nilai, menciptakan pekerjaan, dan ikut memecahkan persoalan daerah.

Dan termasuk, birokrasi harus semakin sederhana, cepat, profesional, serta benar-benar melayani.

 

Saya kira, inilah makna sebenarnya dari otonomi daerah.

 

Otonomi, bukan sekadar memiliki kantor gubernur sendiri, memiliki DPRD sendiri atau sekedar memiliki APBD sendiri. Otonomi, sejatinya terasa di rumah-rumah rakyat.

 

Data ketenagakerjaan, juga memberi pesan penting bahwa pada Mei 2026, Tingkat Pengangguran terbuka Sulbar berada pada 2,89%. Namun, penduduk yang bekerja di sektor formal baru sekitar 30,30%. Sebanyak 50,84% penduduk bekerja berada di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

 

Angka itu, menunjukkan bahwa tantangan Sulbar bukan semata-mata menciptakan pekerjaan. Tantangannya adalah, bagaimana menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, lebih formal, lebih stabil, dan memberikan pendapatan yang layak.

 

Disinilah industrialisasi, hilirisasi, pendidikan vokasi, penguatan UMKM, investasi, dan konektivitas ekonomi menjadi penting.

 

Petani jangan selamanya hanya menjual hasil kebun, sebagai bahan mentah. Nelayan jangan hanya menjual hasil tangkapan, tanpa mendapatkan nilai tambah. Sebab, Sulbar membutuhkan transformasi ekonomi.

 

Kita, juga perlu memperhatikan daya beli masyarakat. Pada Agustus 2026, inflasi Sulbar tercatat 2,29% secara tahunan. Di Mamuju, bahkan mencapai 3,90%.

 

Angka inflasi memang harus dibaca bersama dengan pendapatan masyarakat, sebab bagi keluarga berpenghasilan rendah, kenaikan harga pangan sedikit saja dapat terasa jauh lebih berat dibandingkan angka statistiknya.

 

Oleh sebab itu, menjaga stabilitas harga, memperkuat produksi pangan lokal, memperbaiki distribusi, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Harus menjadi bagian, dari strategi pembangunan.

 

Bahwa, ukuran pembangunan bukan hanya berapa persen ekonomi tumbuh. Tapi, apakah masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan lebih mudah. Dan apakah, keluarga miskin memiliki jalan keluar dari kemiskinan.

 

Ulang tahun Sulbar, sebaiknya menjadi momentum untuk melihat pembangunan dari perspektif yang paling penting. 

 

Apakah rakyat, semakin sejahtera?

 

Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka kita tidak perlu malu mengakuinya. Justru dari situlah, perbaikan dimulai. Sulbar, tidak perlu membutuhkan banyak slogan. Sulbar hanya membutuhkan kerja yang konsisten.

 

Kita membutuhkan pembangunan ekonomi yang tidak hanya bergantung pada belanja pemerintah, kita membutuhkan sektor produktif yang semakin kuat, investasi yang sehat, UMKM yang naik kelas, pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri, konektivitas antardaerah yang semakin baik. Serta, APBD yang benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

 

APBD perubahan 2026, ditetapkan sekitar 1,83 Triliun. Anggaran sebesar itu, bukan sekadar angka dalam dokumen pemerintah. Di dalamnya, terdapat harapan masyarakat yang membayar pajak, menerima pelayanan, dan menunggu pembangunan.

 

Bahkan BPS Sulbar pada 2026, sedang memperkuat pemutakhiran data sosial ekonomi. Melalui groundcheck, untuk mendukung Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Ini penting karena kebijakan yang baik membutuhkan data yang benar.

 

Sebab, zaman sudah berubah. Generasi muda Sulbar hari ini, tidak lagi hanya membandingkan Mamuju dengan Majene atau Polewali Mandar. Mereka, membandingkan Sulbar dengan Makassar, Balikpapan, Surabaya, Jakarta, bahkan kota-kota lain di dunia.

 

Mereka bertanya, mengapa daerah lain bisa maju lebih cepat. Sementara, kami tidak?.

 

Pertanyaan itu, tidak boleh dijawab dengan kemarahan. Harus dijawab, dengan kebijakan.

 

Bahwa membangun Sulbar, bukan pekerjaan satu gubernur, satu bupati, satu periode pemerintahan, atau satu generasi. Ini, pekerjaan panjang.

 

Para pendahulu dan pejuang Sulbar, telah memperjuangkan terbentuknya provinsi ini. Generasi hari ini, mendapat tugas yang berbeda. Yakni, bagaimana memastikan perjuangan itu menghasilkan kesejahteraan.

 

Bahwa, pada hari jadi Sulawesi Barat kali ini. Mungkin, kita tidak perlu terlalu banyak bertanya siapa yang paling berjasa. Lebih penting bertanya, apa yang harus kita kerjakan setelah pesta ulang tahun selesai.

 

Karena setelah panggung dibongkar, baliho diturunkan, dan acara selesai. Rakyat, tetap kembali ke rumah masing-masing.

 

Disanalah sesungguhnya, ukuran keberhasilan sebuah provinsi. Tentu, bukan pada meriahnya perayaan ulang tahunnya. Melainkan, pada seberapa jauh kehidupan rakyatnya berubah menjadi lebih baik.

 

Saya sudah lebih dari Tiga Puluh tahun, meninggalkan kampung itu. Kampung halaman mandar Sulbar, namun semakin jauh saya pergi dari kampung halaman, terkadang semakin kuat pula keinginan saya melihat kampung itu tumbuh.

 

Saya ingin, Sulbar bukan hanya menjadi tempat yang selalu saya rindukan.bSaya ingin, Sulbar menjadi tempat yang dirindukan untuk kembali.

 

Selamat Hari Jadi Sulawesi Barat yang 

ke 22.

 

Semoga, provinsi yang lahir dari semangat Sipamandar. Saling memperkuat, tidak hanya bertambah usia. Tapi juga, semakin dewasa dalam mengelola pembangunan.

 

Karena Sulbar, tidak hanya membutuhkan provinsi yang semakin tua. Sulbar, hanya membutuhkan masa depan yang semakin baik.***