Opini
Oleh: Dr. Muslimin M.
Akademisi
SUDAH lama, saya memperhatikan wajah guru. Dulu, guru banyak bicara. Sekarang, lebih banyak tersenyum pendek.
Entah, karena lelah. Atau, karena terlalu sering kecewa.
Guru, sekarang tidak hanya mengajar. Mereka, juga mengisi aplikasi, mengunggah laporan, memfoto kegiatan, menginput data yang kadang bahkan tidak pernah dibaca.
Saya sering, pernah bertemu seorang guru SD yang sekolahnya tidak jauh dari rumah saya. Guru itu, datang pagi sekali dan pulang agak sore.
“bu, capek mengajar atau administrasi?” tanya saya kepadanya.
Bu guru itu, tertawa kecil.
“Kalau mengajar saya masih bahagia mas, yang melelahkan itu, membuktikan bahwa saya mengajar.” katanya singkat.
Saya, setengah kaget. Kalimat itu, terasa sangat panjang.
Negeri ini, memang unik. Kadang, lebih percaya dokumen daripada manusia. Padahal, murid tidak tumbuh karena laporan, murid-murid itu tumbuh karena ketulusan gurunya.
Mungkin, itu sebabnya banyak guru mulai diam.
Bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu lama berbicara tanpa benar-benar didengar. Sibuk, membuktikan bekerja.
Belakangan ini, saya sering membayangkan satu hal sederhana tentang guru. Kapan sebenarnya, guru punya waktu tenang untuk menjadi guru?.
Pertanyaan itu, muncul setelah saya berbincang dengan seorang guru SMP di salah satu sekolah pinggiran beberapa waktu lalu. Guru itu, datang ke sekolah sebelum pukul Tujuh pagi dan pulang menjelang magrib. Saya kira, dia sedang mempersiapkan bahan ajar atau membimbing muridnya. Ternyata, tidak.
Sebagian besar waktunya habis di depan layar komputer.
Mengisi laporan, mengunggah dokumen, memastikan data sinkron, mengecek administrasi pembelajaran, menjawab permintaan berkas yang datang silih berganti.
“Saya kadang merasa lebih seperti operator,” katanya pelan kepada saya.
Kalimat itu, terdengar biasa saja. Tetapi, sesungguhnya menyimpan kegelisahan besar tentang arah pendidikan kita saat ini.
Sekolah hari ini tampak semakin modern, semakin digital, semakin penuh sistem. Namun disaat yang sama, banyak guru justru merasa semakin jauh dari esensi pekerjaannya sendiri. Mendidik, manusia.
Ada paradoks, diam-diam tumbuh dalam birokrasi pendidikan kita. Negara ingin pendidikan semakin tertib dan terukur, semua aktivitas harus terdokumentasi, semua program harus memiliki indikator, semua kegiatan harus memiliki bukti fisik.
Akibatnya, guru tidak cukup hanya mengajar. Mereka, juga harus terus-menerus membuktikan bahwa guru telah mengajar.
Dititik inilah, pendidikan mulai kehilangan ruang refleksinya.
Ki Hadjar Dewantara, sejak lama sudah mengingatkan. Bahwa, pendidikan sejatinya adalah proses “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak”.
Pendidikan bukan sekadar proses administratif, melainkan hubungan manusiawi antara pendidik dan peserta didik. Namun, hubungan manusiawi itu perlahan tersisih oleh logika birokrasi.
Guru, akhirnya hidup dalam tekanan Dua dunia sekaligus. Yaitu, dunia pedagogik dan dunia administratif. Sayangnya, dunia kedua itu. Kini, sering terasa lebih dominan.
Fenomena ini, sebenarnya bukan sekadar keluhan guru secara personal. Peneliti pendidikan dari UNESCO beberapa kali menyoroti, bahwa beban administratif berlebihan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesejahteraan psikologis guru dan kualitas pembelajaran.
Ketika energi guru habis untuk pekerjaan administratif, fokus terhadap interaksi belajar menjadi berkurang.
Hal serupa, pernah disampaikan oleh banyak pakar pendidikan. Mereka menilai, birokrasi pendidikan di Indonesia sering terlalu menekankan aspek formalitas ketimbang substansi pembelajaran. Guru, akhirnya lebih sibuk memenuhi tuntutan sistem. Daripada, membangun kreativitas belajar di kelas. Mungkin, memang itu yang kini sedang terjadi.
Sekolah, semakin sibuk menghasilkan dokumen. Tetapi, belum tentu semakin berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.
Ironinya, masyarakat sering tidak melihat sisi ini. Masyarakat, hanya melihat guru datang pagi lalu pulang sore. Padahal, banyak pekerjaan administratif justru dibawa pulang ke rumah. Ada guru yang masih mengisi laporan hingga larut malam, setelah mengurus keluarganya sendiri.
Kelelahan itu, nyata. Tetapi, sering tidak dianggap sebagai masalah besar. Karena, administrasi telah dianggap bagian normal dari profesi guru.
Disinilah, persoalannya. Bahwa, sesuatu yang terus-menerus dianggap normal, belum tentu benar.
Tentu, administrasi tetap diperlukan. Negara membutuhkan sistem pengawasan, sekolah membutuhkan akuntabilitas. Namun, ketika administrasi mulai mengambil porsi terlalu besar, pendidikan perlahan berubah menjadi proyek dokumentasi.
Segala sesuatu harus terlihat, segala sesuatu harus tercatat, segala sesuatu harus bisa diperiksa. Padahal, tidak semua keberhasilan pendidikan bisa diukur melalui unggahan laporan.
Ada guru yang berhasil membuat murid kembali percaya diri, ada guru yang diam-diam menyelamatkan anak dari putus sekolah, ada guru yang menjadi tempat murid bercerita ketika keluarganya sedang bermasalah.
Hal-hal seperti itu, sering tidak masuk indikator kinerja. Padahal, justru itulah inti pendidikan.
Saya kira, inilah saatnya pemerintah mulai melihat ulang wajah birokrasi pendidikan kita saat ini. Digitalisasi seharusnya mempermudah kerja guru. Bukan, justru memperpanjang daftar pekerjaannya. Sistem, mestinya membantu guru kembali fokus mengajar, bukan membuat sibuk membuktikan dirinya bekerja.
Sebab, jika guru terus-menerus kelelahan oleh administrasi. Maka, yang hilang bukan hanya energinya. Melainkan, perhatian kepada murid-murid nya.
Dan ketika, perhatian itu hilang. Maka, pendidikan perlahan hanya akan menjadi rutinitas tanpa jiwa. ***