Oleh: Dr. Muslimin M.
Akademisi
SIANG itu, halaman sekolah mulai lengang. Murid-murid, berlarian keluar kelas. Sebagian langsung memeluk ibunya. Ada yang bercerita tentang teman barunya, ada yang bangga menunjukkan buku yang sudah diberi tanda tangan guru dan tidak sedikit pula yang mengeluh. Karena, tugas pertama sudah diberikan.
Sekolah, telah usai. Namun, pendidikan belum selesai.
Sesungguhnya, ketika gerbang sekolah ditutup. Maka, gerbang pendidikan yang lain justru terbuka. Gerbang itu, bernama "Rumah".
Disanalah, anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya, belajar berbicara, mendengar, meminta maaf, menghargai orang lain, menyelesaikan konflik dan tentu saja, memahami arti kasih sayang.
Sebelum mengenal guru, seorang anak telah lebih dahulu mengenal wajah ayah dan ibunya. Bahkan, sebelum belajar membaca buku, anak itu telah membaca sikap kedua orang tuanya.
Oleh sebab itu, saya selalu percaya bahwa keluarga adalah sekolah pertama dan orang tua adalah guru yang paling lama mengajar.
Tidak ada rapor untuk nya, tidak ada juga sertifikat profesi. Apalagi, jam kerja yang berakhir siang hari. Bahwa, menjadi orang tua adalah pekerjaan yang tidak pernah mengenal libur.
Ki Hadjar Dewantara mengatakan, bahwa pendidikan berlangsung di Tiga pusat. Yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiganya, bukan lembaga yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi. Jika salah satunya rapuh, maka proses pendidikan ikut kehilangan keseimbangannya.
Sayangnya, dalam kehidupan modern saat ini. Hubungan itu, kadang tidak seimbang bahkan sering terputus.
Sebagian orang tua, menyerahkan hampir seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Ketika anaknya mulai sulit diatur, sekolah diminta menyelesaikan.
Ketika nilai menurun, guru yang dipersalahkan dan bahkan ketika perilaku anaknya berubah, sekolah kembali menjadi sasaran kritik.
Padahal, guru hanya bersama anak-anak itu sekitar Enam hingga Delapan jam sehari.
Selebihnya, anak itu kembali ke rumah, kembali kepada lingkungan yang membentuk kebiasaan, bahasa dan cara berpikirnya.
Psikolog perkembangan, Diana Baumrind menjelaskan. Bahwa, pola asuh yang hangat, konsisten dan disertai batasan yang jelas cenderung menghasilkan anak yang lebih mandiri, percaya diri dan bertanggung jawab. Pun sebaliknya, pola asuh yang terlalu keras, terlalu membebaskan sama-sama menyimpan risiko terhadap perkembangan karakternya.
Artinya, bahwa pendidikan karakter bukan dimulai ketika anak itu duduk di bangku sekolah.
Bahwa, pendidikan karakter dimulai ketika orang tua memilih mendengarkan anaknya dengan sabar, menepati janji, meminta maaf ketika keliru dan menunjukkan bahwa kejujuran lebih penting daripada kemenangan.
Anak-anak itu, belajar bukan hanya dari nasihat. Tetapi, belajar dari kehidupan yang disaksikan setiap harinya.
Saya sering bertemu mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik yang baik, namun ketika diajak berdiskusi lebih jauh, tampak bahwa rasa percaya dirinya rapuh. Ada pula yang cerdas, tetapi sulit bekerja sama dan ada yang mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan kecil.
Semakin lama saya mengajar, semakin saya menyadari bahwa banyak persoalan itu tidak lahir di ruang kuliah. Akar-akarnya kadang sudah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Karena itulah, pendidikan usia dini menjadi investasi yang sangat menentukan.
Ekonom peraih Nobel, James Heckman mengatakan bahwa investasi terbesar dalam pendidikan justru terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan anak itu. Pada masa itulah kemampuan mengendalikan diri, disiplin, empati, rasa ingin tahu dan kebiasaan belajar mulai terbentuk. Keterampilan-keterampilan ini menjadi fondasi bagi keberhasilan akademik, karier bahkan kualitas kehidupan seseorang di masa depan.
Di era digital saat ini, tantangan orang tua menjadi semakin berat. Gawai hadir di meja makan, media sosial masuk ke kamar tidur dan termasuk kecerdasan buatan mampu menjawab hampir semua pertanyaan anak dalam hitungan detik.
Namun, ada satu hal yang belum mampu diberikan oleh teknologi itu yakni kehangatan pelukan, tatapan penuh perhatian dan percakapan yang jujur.
Dan tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan rasa aman, ketika seorang anak merasa didengarkan oleh ayah dan ibunya.
Dan realitasnya, kita sering begitu sibuk menyiapkan masa depan anak kita hingga lupa hadir dalam dirinya. Kita bekerja keras demi biaya sekolah terbaik, tetapi kehilangan waktu untuk mendengar cerita sederhannya. Bahkan, kita mengejar prestasinya tetapi lupa menanyakan apakah anak itu sedang bahagia.
Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan antara orang tua dan anak memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kesehatan mental, motivasi belajar dan ketahanan menghadapi tekanan dibandingkan berbagai fasilitas yang mahal.
Anak-anak itu, tidak selalu membutuhkan rumah yang paling besar bahkan tidak selalu membutuhkan mainan yang paling mahal karena sesungguhnya, mereka hanya membutuhkan rumah yang membuat merasa diterima.
Saya percaya, bahwa pendidikan yang hebat tidak lahir dari persaingan antara sekolah dan keluarga. Justru, pendidikan yang hebat lahir dari kemitraan.
Guru dan orang tua, bukan dua pihak yang saling menyalahkan ketika murid menghadapi masalah. Guru dan orang tua adalah dua tangan yang bekerja bersama, untuk membentuk manusia yang utuh.
Mungkin itulah sebabnya, setiap kali melihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah, seorang ibu menunggu di depan gerbang ketika jam pulang tiba. Saya selalu merasa, sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada rutinitas harian.
Saya sedang melihat, sebuah bangsa menitipkan masa depannya.
Karena masa depan negara ini, tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan guru di ruang kelas. Melainkan, ditentukan oleh apa yang dilakukan orang tua ketika lampu rumah mulai dinyalakan, ketika makan malam dinikmati bersama, ketika doa dipanjatkan sebelum tidur.
Dan bahkan, ketika anak-anak itu belajar bahwa cinta, kejujuran dan tanggung jawab. Pertama kali, mereka temukan ada di rumah. Dan rumah yang dipenuhi kasih sayang, akan selalu menjadi sekolah yang
tak pernah libur. ***