05 Ags 2026 | Dilihat: 134 Kali

Melihat Kembali Diskusi Yang Gagal Di Kampus

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

SAYA selalu mempunyai keyakinan yang sederhana tentang Kampus.

 

Keyakinan itu, tumbuh sejak lama. Setiap kali, saya memasuki halaman sebuah universitas, melihat mahasiswa berjalan tergesa-gesa menuju ruang kuliah. Atau, duduk berjam-jam 

di perpustakaan yang sunyi.

 

Bagi saya, kampus bukan sekadar kumpulan gedung, laboratorium dan ruang kelas.

 

Kampus, adalah tempat sebuah bangsa belajar berpikir.

 

Disanalah, seorang anak desa belajar mempertanyakan dunia. Disanalah, seorang Dosen mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak lahir dari kepatuhan. Melainkan, dari keberanian untuk bertanya. 

 

Dan disana pula, negara seharusnya memiliki sahabat paling jujur. Yakni, komunitas akademik yang tidak takut mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

 

Ketika, saya membaca kabar tentang gagalnya sebuah diskusi di UGM dan Kampus-Kampus lain beberapa waktu lalu. Maka, yang saya rasakan bukan sekadar kecewa.

 

Ada kesedihan yang sulit dijelaskan, bukan semata-mata karena sebuah forum tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Melainkan, karena saya melihat sesuatu yang lebih besar sedang dipertaruhkan.

 

Kepercayaan!

 

Saya membayangkan, ruang diskusi itu. Mungkin ada mahasiswa yang datang dengan membawa catatan kecil, ada dosen yang berharap perbedaan pendapat dapat dipertemukan dalam argumentasi. Atau, bahkan ada banyak orang-orang yang masih percaya bahwa kampus masih menjadi rumah bagi akal sehat.

 

Tetapi, ketika ruang dialog kehilangan ketenangannya. Maka, yang gagal sesungguhnya bukan hanya sebuah acara. Bahwa, yang gagal adalah kesempatan untuk saling mendengar.

 

Padahal, sejarah mengajarkan satu hal penting. Bahwa, bangsa-bangsa besar tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat.

 

Bangsa besar, dibangun oleh mereka yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.

 

Saya selalu percaya, negara yang kuat bukan negara yang berhasil membungkam kritik.

 

Bahwa, negara yang kuat adalah negara yang cukup percaya diri mendengarkan kritik. Bahkan, ketika kritik itu terdengar tidak nyaman.

 

Sebab, kritik bukanlah tanda kebencian. Kadang, kritik justru lahir dari rasa memiliki.

 

Mahasiswa yang turun berbicara, belum tentu membenci negaranya. Justru, karena mereka mencintai negeri ini, merasa perlu mengingatkan. Ketika, melihat sesuatu yang mulai menjauh dari cita-cita bersama.

 

Disinilah, kampus mempunyai makna yang tidak tergantikan. Kampus bukan panggung politik, bukan arena permusuhan.

 

Kampus, adalah rumah bagi pertanyaan-pertanyaan yang sering tidak berani diajukan di tempat lain.

 

Saya membayangkan, seorang mahasiswa yang pulang dari kampus sore itu. Mungkin, dia tidak membawa kemenangan, mungkin juga tidak membawa jawaban.

 

Tetapi, dia membawa satu kegelisahan yang akan terus tumbuh dalam dirinya.

 

Apakah, negara masih mau mendengar?.

 

Pertanyaan itu terdengar agak unik, namun justru dari pertanyaan sederhana itulah sejarah sering berubah. Sebab, setiap perubahan besar selalu diawali oleh seseorang yang berani bertanya ketika banyak orang memilih diam.

 

Dan selama kampus masih melahirkan orang-orang yang berani bertanya, saya masih percaya harapan bagi demokrasi belum benar-benar padam.

 

Negara yang besar, selalu bersedia mendengar.

 

Semakin lama saya memperhatikan perjalanan bangsa ini, semakin saya percaya bahwa masalah terbesar sebuah negara kadang bukan kurangnya kebijakan.

 

Bahwa, yang lebih berbahaya adalah ketika negara mulai kehilangan kemampuan mendengar.

 

Pemerintah boleh memiliki data yang lengkap, laporan pembangunan boleh dipenuhi angka-angka yang meyakinkan. Bahkan, presentasi kebijakan boleh tampak sangat sempurna. Namun, kehidupan rakyat tidak pernah seluruhnya dapat diterjemahkan menjadi grafik.

 

Ada kegelisahan yang tidak masuk dalam statistik, ada kecemasan yang tidak tercatat dalam laporan evaluasi dan ada harapan yang tidak pernah muncul dalam konferensi pers.

 

Karena itulah, kampus selalu dibutuhkan, bukan untuk melawan negara. Melainkan, untuk mengingatkan negara bahwa diluar ruang rapat masih ada kehidupan yang terus bergerak.

 

Mahasiswa, mungkin tidak selalu benar. Dosen atau para akademisi, juga bisa keliru dan tidak memiliki monopoli atas kebenaran.

 

Namun, semuanya mempunyai satu tugas yang sangat penting. Yakni, bagaimana menjaga agar akal sehat tetap hidup ditengah hiruk-pikuk politik dan kekuasaan.

 

Demokrasi yang sehat, bukan demokrasi yang sunyi. Demokrasi yang sehat, justru dipenuhi suara-suara yang berbeda. Lalu, dipertemukan melalui dialog yang bermartabat.

 

Ketika ruang dialog menyempit, maka sesungguhnya yang sedang kehilangan bukan hanya kampus. Negara pun, ikut kehilangan kesempatan memperbaiki dirinya sendiri.

 

Saya sering teringat, sebuah pelajaran penting.

 

Bahwa, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak selalu marah karena keinginannya ditolak. Mungkin, lebih sering terluka karena merasa tidak didengar.

 

Begitu pula, rakyat.

 

Rakyat memahami, bahwa pemerintah tidak mungkin memenuhi seluruh harapannya. Namun, mereka ingin diyakinkan bahwa suara nya masih mempunyai arti.

 

Bahwa, kritik masih dianggap bagian dari kecintaan kepada negeri dan perbedaan pendapat tidak otomatis dianggap permusuhan.

 

Disitulah, letak kematangan sebuah demokrasi.

 

Negara yang percaya diri, tidak akan takut pada ruang diskusi. Justru akan datang, duduk, mendengar, lalu menjawab dengan argumentasi yang lebih baik.

 

Sebab, sejarah berkali-kali mengingatkan kita bahwa sebuah bangsa tidak runtuh karena terlalu banyak kritik. Bangsa bisa runtuh, ketika kritik berhenti didengar.

 

Mungkin itulah pelajaran penting yang dapat kita petik dari peristiwa gagal nya diskusi publik di UGM beberapa waktu lalu.

 

Bukan tentang siapa yang benar, tentang siapa yang menang. Melainkan tentang pentingnya menjaga kampus sebagai ruang terakhir tempat akal sehat masih boleh berbicara tanpa rasa takut.

 

Karena, ketika kampus kehilangan kebebasan bertanya. Maka, sesungguhnya yang sedang kehilangan bukan hanya dunia akademik. Bahwa, yang sedang kehilangan adalah masa depan republik ini.***