30 Jul 2026 | Dilihat: 204 Kali

URI Dan MIMPI Negara

noeh21
Universitas Republik Indonesia (URI) - foto:kompas
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

BEBERAPA hari terakhir, saya dibayangi Satu pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Mengapa, sebuah negara merasa perlu mendirikan universitas baru. Khusus, untuk mencetak pemimpinnya?. 

 

Bukankah, negara ini telah memiliki Ratusan perguruan tinggi. Bahkan Ribuan, jika menghitung seluruh kampus negeri dan swasta. Dan setiap tahun, Puluhan Ribu sarjana terbaik lahir dari ruang-ruang kuliah itu. Mereka datang dengan kecerdasan, idealisme dan mimpi untuk mengabdi.

 

Lalu, apa sesungguhnya yang sedang dicari negara?.

 

Semakin saya mencoba memahami gagasan pendirian Universitas Republik Indonesia (URI), semakin saya merasakan bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah kampus. Mungkin, yang sedang dipertaruhkan adalah keyakinan. Bahwa, masadepan birokrasi tidak lagi cukup diperbaiki melalui regulasi. Harus, dimulai dari manusianya.

 

Selama bertahun-tahun kita sibuk membenahi sistem, menyusun regulasi baru, membangun aplikasi digital, merancang indikator kinerja, menyederhanakan prosedur, hingga mendigitalisasi hampir seluruh layanan publik. Namun, keluhan masyarakat tak benar-benar berkurang.

 

Mengapa, demikian?.

 

Karena, sistem hanyalah alat. Bahwa, yang menentukan arah dan wataknya tetaplah manusia.

 

Saya, sering menjumpai pegawai-pegawai muda yang datang dengan mata berbinar. Mereka membawa semangat baru, gagasan baru dan keberanian untuk berubah. Namun, beberapa tahun kemudian, semangat itu perlahan memudar. Bukan karena pekerjaan yang terlalu berat, melainkan karena budaya yang terlalu lama menganggap perubahan sebagai ancaman.

 

Dan lucunya, bukan mereka yang mengubah sistem. Justru, sistemlah yang mengubah dirinya. 

 

Saya teringat sebuah pemikiran, bahwa orang-orang baik sering hanyalah titik putih di tengah lautan abu-abu. Mereka, datang dengan idealisme. Tetapi, akhirnya larut dalam arus yang sama. Bukan karena kehilangan kecerdasan, melainkan karena terlalu lama hidup dalam lingkungan yang menganggap kompromi sebagai kewajaran.

 

Mungkin, disitulah kegelisahan yang ingin dijawab oleh URI.

 

Negara tampaknya ingin membangun sebuah ekosistem yang sejak awal menanamkan integritas, kepemimpinan, profesionalisme dan keberanian mengambil keputusan demi kepentingan publik. Harapannya sederhana, bahwa ketika orang-orang dengan nilai yang sama ditempatkan di berbagai lembaga negara. Maka, perubahan tidak lagi bergantung pada Satu atau Dua figur. Karena, menjadi gerakan bersama.

 

Saya, menyukai cara berpikir begini.

 

Namun, saya juga sadar bahwa membangun universitas jauh lebih mudah daripada membangun karakter. Gedung dapat selesai dalam hitungan tahun, kurikulum dapat disusun dalam beberapa bulan. Tetapi, integritas membutuhkan latihan sepanjang hidup, ditempa oleh teladan, keberanian dan konsistensi, bukan sekadar ruang kuliah.

 

Kita tentu berharap, bahwa URI tidak hanya mengajarkan bagaimana mengambil keputusan. Tetapi, juga mengajarkan mengapa setiap keputusan harus berpihak kepada rakyat.

 

Sebab, jabatan publik bukanlah panggung untuk menunjukkan siapa yang paling pintar. Jabatan publik, adalah ruang untuk membuktikan siapa yang paling mampu melayani.

 

Disitulah saya melihat, URI bukan semata proyek pendidikan. Melainkan, pertaruhan besar negara terhadap kualitas manusianya.

 

Bisakah sekolah elite, mengubah birokrasi?.

 

Saya ingin percaya, bahwa URI akan berhasil. Namun, sejarah mengajarkan bahwa. Optimisme, juga harus disertai kewaspadaan.

 

Prancis pernah memiliki École Nationale d'Administration (ENA), sekolah yang selama Puluhan Tahun melahirkan presiden, perdana menteri, diplomat dan birokrat terbaiknya. Banyak yang menduga, model inilah yang menginspirasi lahirnya URI.

 

Namun, perjalanan ENA juga menyimpan pelajaran penting.

 

Sekolah itu, kemudian dikritik bukan karena gagal melahirkan orang-orang cerdas. Melainkan, karena dianggap terlalu berhasil membentuk kelompok elite yang hidup dalam lingkarannya sendiri. Mereka, menguasai teori negara. Tetapi, perlahan kehilangan kedekatan dengan realitas masyarakat yang di layaninya. 

 

Pelajaran itu, seharusnya menjadi cermin bagi negara ini.

 

Negara, memang membutuhkan birokrat yang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak pernah cukup. Negara, membutuhkan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan lahir dari kemampuan mendengar, memahami dan merasakan kehidupan rakyatnya. Bukan, hanya dari ruang kuliah dan ruang rapat.

 

Saya khawatir, apabila URI hanya melahirkan elite baru. Elite, yang fasih berbicara tentang data. Tetapi, lupa mendengar keluhan.

 

Elite, yang piawai menyusun kebijakan. Tetapi, tidak pernah merasakan panjangnya antrean pelayanan. Dan, Elite yang bangga mengusung meritokrasi. Tetapi, perlahan kehilangan empati.

 

Bahwa, pertaruhan sesungguhnya bukan terletak pada kurikulumnya. Pertaruhannya, berada pada budaya birokrasi yang akan menerima para lulusannya.

 

Apakah, lulusannya benar-benar akan diberi ruang untuk memimpin berdasarkan kemampuan. Ataukah, tetap harus tunduk pada patronase politik, kompromi kekuasaan dan jaringan kepentingan yang selama ini menjadi penyakit birokrasi?. 

 

Jika, jawabannya adalah yang kedua. Maka, URI hanya akan menjadi pabrik yang menghasilkan orang-orang hebat untuk kemudian diserap oleh sistem yang belum berubah.

 

Dan sejarah berkali-kali membuktikan, sistem hampir selalu lebih kuat daripada personalitinya. 

 

Karenanya, keberhasilan URI tidak boleh diukur dari berapa banyak alumninya menjadi menteri, gubernur, sekretaris jenderal. Atau, direktur jenderal.

 

Keberhasilannya, baru layak dirayakan. Ketika, masyarakat merasakan birokrasi yang lebih bersih, pelayanan yang lebih cepat, keputusan yang lebih adil dan negara hadir tanpa meminta. Rakyat, mengenal siapa pun dibalik meja pelayanan.

 

Negara, memang harus bertaruh pada kualitas manusia. Namun, manusia terbaik hanya akan tumbuh di dalam sistem yang adil.

 

Meritokrasi, tidak boleh berhenti menjadi slogan di ruang kuliah. Meritokrasi, harus hidup dalam setiap promosi jabatan, setiap proses pengambilan keputusan dan setiap pelayanan kepada rakyat.

 

Sebab, yang akan diuji bukanlah Universitas Republik Indonesia. Bahwa, yang akan diuji adalah keberanian negara untuk mempercayai orang-orang terbaik, memimpin.

 

Jika, keberanian itu benar-benar hadir. Maka, URI akan dikenang bukan karena megahnya gedungnya, hebatnya kurikulumnya. Melainkan, karena dari sanalah lahir generasi pemimpin yang mengembalikan makna paling sederhana dari kekuasaan. 

 

Melayani, bukan dilayani. ***