08 Ags 2026 | Dilihat: 142 Kali

Mengantar MIMPI Ke AIRLANGGA (Bag. 1)

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

PAGI itu, Surabaya belum benar-benar sibuk. 

 

Matahari, baru saja menyibak langit di ufuk timur. Udara masih menyisakan kesejukan yang sebentar lagi akan ditelan panas kota. Saya, istri dan nandaku, Tamy. Berjalan perlahan memasuki Kampus C, Universitas Airlangga.

 

Kami, tidak banyak berbicara.

 

Sesekali, Dia menunjuk sebuah gedung. Bercerita tentang laboratorium yang akan menjadi tempat belajarnya, ruang kuliah yang akan dipenuhi diskusi dan para dosen yang kelak membimbing langkahnya memahami dunia farmasi yang begitu luas.

 

Saya, hanya mendengarkan.

 

Barangkali, begitulah seorang ayah ketika anaknya mulai dewasa.

 

Semakin bertambah usia anak, semakin sedikit nasihat yang perlu diucapkan. Sebab pada usia seperti ini, seorang anak tidak lagi membutuhkan banyak kata. Dia lebih membutuhkan keyakinan, bahwa ada seseorang yang akan selalu percaya kepada setiap langkahnya. Bahkan, ketika dia sendiri sedang meragukan kemampuannya.

 

Pagi itu, kampus UNAIR seperti sedang menulis kisahnya sendiri.

 

Mahasiswa berjalan tergesa-gesa dengan ransel di punggung dan laptop di tangan, sebagian tertawa bersama sahabatnya. Sebagian lagi, duduk di bawah rindangnya pepohonan sambil menikmati sisa-sisa pagi sebelum kesibukan mengambil alih hari.

 

Saya, selalu menyukai suasana kampus seperti ini. Sebab di tempat seperti inilah mimpi-mimpi dipelihara.

 

Peradaban, tidak dibangun dalam semalam. Peradaban lahir dari ribuan halaman buku yang dibaca hingga larut malam. Dari penelitian yang berkali-kali gagal, sebelum akhirnya menemukan jawaban. 

 

Dan dari praktikum yang menuntut ketelitian tanpa kompromi, bahkan dari orang-orang muda yang memilih bertahan ketika banyak orang memilih menyerah.

 

Ketika kami tiba di depan Fakultas Farmasi, langkah kami melambat.

 

Saya memandang gedung itu beberapa saat dan dalam hati saya berbisik, "gedung ini bukan sekadar bangunan, dibalik dinding-dindingnya tersimpan ribuan cerita tentang kerja keras, disiplin dan pengabdian. Disanalah, lahir para apoteker handal, ilmuwan hebat dan peneliti yang memilih mengabdikan ilmunya demi kesehatan manusia". 

 

Selama puluhan tahun, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga membangun reputasinya bukan dengan slogan. Melainkan dengan karya, riset, integritas dan dedikasi yang membuat namanya dihormati, tidak hanya di Indonesia. Tetapi, juga di tingkat global dengan penghargaan dan akreditasi internasional.

 

Saya membatin, "Hari ini, nandaku tidak sedang memasuki sebuah gedung. Dia, sedang memasuki sebuah mata rantai panjang peradaban ilmu pengetahuan. Mata rantai yang telah ditempa oleh ribuan orang sebelum dirinya dan yang kelak akan dia teruskan kepada generasi sesudahnya."

 

Entah mengapa, ingatan saya melompat jauh ke belakang.

 

Saya masih ingat ketika pertama kali saya mengantarnya ke sekolah dasar dulu, sebuah sekolah Islam. SDIT Darussalam, Sangatta.

 

Tasnya hampir sebesar tubuhnya, tangannya menggenggam jemari saya begitu erat. Di matanya, ada rasa takut yang belum mampu dia sembunyikan.

 

Hari ini, genggaman itu telah berubah. Dan yang berjalan di samping saya, kini adalah seorang perempuan muda yang membawa mimpinya sendiri.

 

Tatapannya lebih mantap dan langkahnya lebih tenang.

 

Tanpa saya sadari, ternyata langkah saya justru mulai melambat. Bukan karena lelah, tetapi karena saya sedang berusaha menikmati detik-detik yang kelak hanya akan menjadi kenangan.

 

Waktu, memang bekerja tanpa suara. Waktu, tidak pernah meminta izin ketika mengubah seorang anak kecil menjadi perempuan remaja.

 

Dan waktu juga, tidak pernah memberi tahu kapan terakhir kali seorang ayah menggandeng tangan anaknya.

 

Tiba-tiba saya sadar. 

 

Mungkin beberapa langkah pagi ini, adalah langkah terakhir saya mengantarnya sebagai seorang ayah.

 

Mulai besok dan seterusnya, 

dia akan lebih banyak berjalan sendiri.

 

Mencari jawaban sendiri, mengambil keputusan sendiri. Dan, menghadapi hidupnya sendiri.

 

Disitulah, dada saya terasa sesak oleh rasa yang sulit diberi nama.

 

Ada bangga, rasa haru dan bahagia. Tetapi, ada pula kesedihan yang begitu halus sebab setiap kebahagiaan seorang ayah ternyata selalu disertai latihan untuk perlahan melepaskan.

 

Saya tidak merasa kehilangan. Saya justru merasa sangat bersyukur.

 

Tidak semua orang tua diberi kesempatan menyaksikan anaknya tumbuh, menemukan cita-citanya, lalu mengantarnya hingga tiba di gerbang salah satu universitas terbaik bangsa, UNAIR.

 

Lebih dari itu, tidak semua ayah memperoleh anugerah melihat anaknya berdiri di depan fakultas yang akan mengajarkannya bahwa setiap kapsul, setiap tablet, setiap tetes obat, bahkan setiap formula kosmetik selalu berawal dari ilmu, kejujuran ilmiah, ketelitian dan kasih sayang kepada sesama manusia.

 

Sebelum berpisah, saya hanya berkata pelan padanya.

 

"Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jagalah akhlak dan ibadahmu. Sebab, di tempat sebesar ini, banyak orang akan mengingat kecerdasanmu. Namun, dunia akan lebih lama mengenang kebaikan hatimu."

 

Dia, tersenyum.

 

Senyum, yang sejak kecil selalu menjadi cara paling sederhana untuk menenangkan hati ayahnya.

 

Lalu, dia melangkah masuk ke gedung itu. Saya tetap berdiri, tidak segera pergi.

 

Saya memandang pintu yang perlahan menutup hingga sosoknya benar-benar hilang dari pandangan saya.

 

Entah mengapa, mata saya terasa hangat.

 

Bukan karena sedih, melainkan karena saya baru menyadari bahwa doa-doa yang selama ini saya panjatkan, akhirnya sedang berjalan dengan kedua kakinya sendiri.

 

Disitulah, saya memahami sesuatu. Bahwa, tugas seorang ayah ternyata bukan menjaga anaknya agar selalu berada di dekatnya.

 

Melainkan, membesarkan keberaniannya agar mampu melangkah jauh tanpa kehilangan arah.

 

Menguatkan akarnya agar ketika kelak menjulang setinggi langit, dia tidak tercerabut dari nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil.

 

Hari itu, saya tidak sedang melepas seorang anak. Saya, hanya sedang mengantarkan sebuah mimpi.

 

Mimpi yang dahulu hanya hidup dalam doa-doa panjang seusai shalat, mimpi yang tumbuh bersama kerja keras, air mata, kesabaran dan pengorbanan seorang ibu yang diam-diam selalu lebih banyak menangis dalam doanya daripada yang pernah tunjukkan.

 

Kini, mimpi itu melangkah memasuki Fakultas Farmasi UNAIR. Fakultas farmasi terbaik saat ini, fakultas yang diimpikan banyak anak-anak muda.

 

Saya percaya, bila ilmu dipelajari dengan sungguh-sungguh, disertai akhlak yang baik, doa seorang ibu yang tak pernah putus dan harapan seorang ayah yang tak pernah padam, maka suatu hari nanti anak ini bukan hanya akan mengharumkan nama keluarganya.

 

Dia akan menjadi alasan, mengapa banyak orang kembali sehat.

 

Menjadi alasan mengapa seseorang bisa kembali memeluk keluarganya dan menjadi alasan mengapa seorang ibu masih dapat melihat anaknya tumbuh.

 

Dan bukankah ilmu pengetahuan memang menemukan kemuliaannya ketika mampu menyelamatkan kehidupan manusia?.

 

Barangkali, itulah arti paling sederhana dari keberhasilan seorang ayah dan ibu.

 

Bukan ketika anaknya berdiri di puncak, melainkan ketika ilmu yang dipelajarinya berubah menjadi manfaat bagi sesama.

 

Dan kelak, ketika usia saya semakin senja, langkah saya semakin pelan dan rambut saya memutih seluruhnya, saya hanya berharap satu hal.

 

Semoga setiap kebaikan yang lahir dari ilmu anak saya menjadi amal jariyah yang terus mengalir, mengiringi doa-doa kami, bahkan ketika kami telah tiada.

 

Karena yang paling ingin diwariskan oleh seorang ayah dan ibu bukanlah harta, melainkan mimpi yang berhasil tumbuh menjadi kemanfaatan bagi banyak orang. ***