13 Ags 2026 | Dilihat: 205 Kali

Mengantar MIMPI Ke AIRLANGGA (Bag. 3)

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

Pagi itu di Surabaya, saya memulai hari dengan cara yang cukup menyehatkan. 

 

Jogging mengelilingi beberapa bagian di Kampus C, Universitas Airlangga.

 

Udara Surabaya masih menyimpan kesejukan. Cahaya matahari baru saja menembus celah-celah pepohonan tua yang menaungi jalanan kampus Unair. Burung-burung berkicau riang, sementara langkah-langkah para pelari berpadu dengan semangat mahasiswa yang mulai memenuhi sudut-sudut kampus.

 

Di tempat ini, pagi seolah memiliki denyutnya sendiri.

 

Saya berlari perlahan, menikmati setiap tarikan napas.Tidak ada target waktu, apalagi ambisi memecahkan rekor. Di usia saya yang semakin bertambah, jogging bukan lagi soal kecepatan, melainkan cara mensyukuri bahwa tubuh ini masih diberi kemampuan untuk bergerak.

 

Di kejauhan, tampak Gedung Fakultas Farmasi yang megah menjulang tinggi ke angkasa, Gedung kembar Nano Nani

 

Disanalah nanda ku, Tamy. Putri saya, memulai perjalanan barunya sebagai mahasiswa farmasi. 

 

Saya berhenti sejenak, memandang gedung itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

 

Barangkali, beginilah hati seorang ayah, selalu dipenuhi rasa bangga yang bercampur haru. Dulu waktu dia masih SD, saya mengantarnya ke sekolah dengan tas kecil di punggungnya. 

 

Kini, saya mengantarnya ke sebuah kampus besar, salah satu kampus terbaik di negeri ini. Tempat dia akan belajar, bertumbuh dan menyiapkan masa depannya sendiri.

 

Waktu, ternyata berlari jauh lebih cepat daripada langkah kaki saya selama ini. 

 

Di lintasan jogging, saya berpapasan dengan banyak orang. Ada banyak mahasiswa baru yang berjalan tergesa-gesa menuju suatu ruangan. Ada juga dosen yang menikmati udara pagi, bahkan banyak pula masyarakat yang menjadikan kampus ini sebagai ruang untuk menjaga kesehatan dirinya.

 

Semua bergerak, semua memiliki tujuan.

 

Dan saya pun menyadari, bahwa kampus bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Kampus adalah ruang tempat ribuan mimpi dipertemukan dengan kerja keras.

 

Saya kemudian berpikir, jogging dan pendidikan ternyata memiliki banyak kesamaan.

 

Keduanya, mengajarkan kesabaran.

 

Tidak ada pelari yang mampu menaklukkan lintasan tanpa latihan, pun tidak ada mahasiswa yang mencapai keberhasilan tanpa disiplin.

 

Setiap langkah kecil, setiap tetes keringat dan setiap rasa lelah yang mampu dilewati adalah bagian dari proses menuju garis akhir.

 

Sebagai seorang ayah, saya sadar bahwa saya tidak lagi bisa berjalan di sampingnya setiap saat.

 

Kini, tugas saya berubah.

 

Bukan lagi menentukan arah langkahnya, melainkan memastikan doa-doa saya tidak pernah berhenti mengiringinya.

 

Saya percaya, bahwa setiap orang tua sesungguhnya sedang menjalani perlombaan yang tidak pernah tercatat dalam kalender olahraga.

 

Perlombaan menjaga harapan, menahan cemas dan perlombaan untuk tetap sehat agar dapat menyaksikan putra-putri nya tumbuh menjadi manusia yang berguna.

 

Ketika putaran terakhir selesai, saya kembali menatap Gedung Fakultas Farmasi itu. 

Hati saya, dipenuhi rasa syukur dan bahagia. 

 

Saya pulang membawa tubuh yang sedikit berkeringat, tetapi jiwa yang terasa lebih ringan.

 

Pagi ini, saya belajar satu hal penting bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari pencapaian besar.

 

Kadang, hadir dalam hal-hal yang sangat sederhana.

 

Jogging dibawah rindangnya pepohonan Unair, mengantar anak menuju ruang kuliahnya. Lalu, pulang dengan keyakinan bahwa setiap langkah yang ditempuh hari ini sekecil apa pun, itu artinya sedang mengantar kita menuju masa depan yang lebih baik.

 

Dan bagi seorang ayah, tidak ada garis finis yang lebih indah selain melihat anaknya berdiri tegak dengan ilmu, akhlak dan keberanian untuk mengabdikan dirinya kepada sesama.***

Baca sebelumnya:
Mengantar MIMPI Ke AIRLANGGA (Bag. 1)
Mengantar MIMPI Ke AIRLANGGA (Bag. 2)