Oleh: Dr. Muslimin M.
Akademisi
PAGI ini untuk kesekian kalinya, saya mengitari sebagian Kampus C UNAIR sambil berolahraga pagi.
Saya mulai hafal jalan-jalannya, mulai mengenali gedung-gedungnya. Bahkan, saya mulai hafal pohon-pohon besar yang menaungi pejalan kaki dari terik matahari Surabaya. Namun setiap kali datang ke sini, selalu ada perasaan yang berbeda.
Mungkin karena saya datang bukan sebagai mahasiswa, bukan pula sebagai dosen.
Saya datang, sebagai seorang ayah.
Seorang ayah yang sedang belajar mempercayakan masa depan anaknya kepada sebuah institusi yang selama puluhan tahun, menjaga marwah ilmu pengetahuan.
Di negeri ini, banyak universitas yang baik. Banyak pula, Fakultas Farmasi yang melahirkan apoteker dan ilmuwan.
Tetapi UNAIR, memiliki cerita yang berbeda. Nama besarnya, tidak dibangun dalam Satu atau Dua tahun.
Universitas ini dibentuk oleh waktu, oleh Ribuan Dosen yang mengajar dengan dedikasi, para peneliti yang menghabiskan malam di laboratorium, oleh alumni yang menjaga nama baik almamaternya dengan karya, bukan sekadar kebanggaan.
Saya percaya, bahwa reputasi sebuah kampus sesungguhnya bukan hadiah.
Reputasi kampus adalah akumulasi dari kejujuran akademik, kerja keras, disiplin dan keberanian untuk terus mencari jawaban atas persoalan masyarakat.
Ketika putri saya memilih studi lanjut di Fakultas Farmasi UNAIR, saya tidak hanya melihat dia sedang mengejar gelar.
Saya melihatnya, dia sedang memasuki sebuah tradisi.
Tradisi berpikir ilmiah, tradisi menghargai data dan bahkan tradisi meragukan sesuatu sebelum mempercayainya.
Bahwa ilmu harus turun ke masyarakat, menjadi obat yang menyembuhkan, menjadi kosmetik yang aman dan menjadi inovasi yang membuat hidup manusia lebih baik.
Saya berharap, ketika nanti dia menyelesaikan pendidikannya, orang tidak mengenangnya hanya sebagai lulusan Universitas Airlangga. Melainkan sebagai seorang apoteker, peneliti atau akademisi yang bekerja dengan hati.
Bahwa, nama besar kampus hanya akan menjadi kebanggaan jika lulusannya mampu menjaga kehormatannya. Jika tidak, maka nama besar itu hanya akan menjadi tulisan di selembar ijazah.
Ketika saya meninggalkan kampus UNAIR pagi ini, matahari pagi sudah meninggi.
Mahasiswa semakin ramai, terutama mahasiswa baru yang lagi ospek (Amerta istilah Unair), suara langkah mereka bercampur dengan suara kendaraan yang mulai memenuhi jalan.
Saya berhenti sejenak di salah satu gerbangnya. Lalu, tersenyum.

Saya sadar, bahwa pagi ini saya tidak sekadar berjalan.
Saya sedang menyaksikan, ribuan anak muda menulis masa depannya. Dan diantara ribuan langkah itu, ada langkah putri saya yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Airlangga.
Semoga, dia nanti tidak hanya lulus dengan predikat terbaik. Tetapi, juga menjadi manusia yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Sebab, setinggi apa pun nama sebuah universitas, kemuliaannya akan tetap diukur dari manfaat yang diberikan oleh para alumninya kepada bangsa.
Dan mungkin itulah, makna paling dalam dari Airlangga.
Bukan sekadar, kampus terbaik. Melainkan tempat dimana ilmu, integritas dan pengabdian dipertemukan untuk melahirkan masa depan Indonesia. ***