08 Ags 2026 | Dilihat: 225 Kali

Kemarin Sore Di Juanda

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

BANDARA Juanda, sore itu. Tetap seperti biasa, sangat ramai.

 

Pengeras suara, berkali-kali memanggil penumpang. Koper-koper kecil, berlari diatas roda. Orang-orang berjalan cepat, sebagian melihat jam dan sebagian lagi melihat layar keberangkatan.

 

Bandara, memang tidak pernah terlalu peduli pada perasaan seseorang.

 

Pesawat harus tetap berangkat, penumpang harus tetap naik. Dan orang yang mengantar, harus tetap pulang.

 

Beberapa jam sebelumnya, saya masih bersama nandaku, Tamy.

 

Putri saya itu, baru saja memulai babak baru dalam hidupnya sebagai mahasiswi Farmasi di UNAIR.


Tamy
 

Saya, mengantarnya ke Surabaya. Lalu, seperti semua orang tua yang pernah mengantar anaknya pergi jauh. Tiba-tiba, datang bagian yang paling sulit. pulang!.

 

Tentu bukan karena Surabaya tidak menyenangkan, melainkan karena untuk pertama kalinya saya sadar bahwa anak yang selama ini tumbuh di depan mata, sudah mulai mempunyai dunianya sendiri.

 

Saya duduk di ruang tunggu itu cukup lama, sekitar 3 jam lebih. Tidak banyak yang saya lakukan, hanya melihat landasan.

 

Pesawat datang, pergi.

Datang lagi, lalu pergi lagi.

 

Saya kemudian berpikir dalam hati, mungkin memang begitulah kehidupan.

 

Kita bertemu untuk kemudian berpisah, menggenggam untuk kemudian belajar melepaskan.

 

Di landasan itu, saya tiba-tiba teringat nandaku, Tamy. Ketika, masih kecil dulu.

Dr. Muslimin bersama putrinya, Tamy


Dulu, Dia pernah menggenggam jari saya ketika belajar berjalan. Langkahnya kecil, kadang jatuh. Bangun lagi, menangis, lalu mencoba lagi.

 

Waktu itu, saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti, anak kecil yang menggenggam jari saya itu. Justru, akan berjalan jauh tanpa saya.

 

Hari ini, dia sudah dewasa. Sudah punya kampus, punya cita-cita dan punya jalan yang harus ditempuh.

 

Tugas sayapun, berubah.

 

Dulu, saya memegang tangannya agar dia tidak jatuh. Sekarang saya harus belajar melepaskan tangan itu agar dia bisa berjalan sendiri.

 

Mungkin itulah, salah satu pekerjaan paling berat menjadi orang tua.

 

Membesarkan anak ternyata bukan hanya soal memberi makan, menyekolahkan dan memenuhi kebutuhannya.

 

Ada satu pekerjaan lain yang jauh lebih sulit, yakni mengajarinya pergi.

 

Saya melihat lagi pesawat yang sedang bersiap di landasan.

 

Setiap pesawat, membawa banyak orang. Tetapi, masing-masing membawa cerita yang berbeda.

 

Ada yang pergi mencari nafkah, pulang membawa rindu dan ada pula yang mengejar pendidikan seperti nandaku, Tamy.

 

Sore itu, saya berada di antaranya. Membawa satu perasaan yang agak sulit dijelaskan.

 

Bangga, bahagia. Sudah pasti. Tetapi juga, ada sedikit kosong.

 

Ketika anak mulai jauh, hati juga ingin menahannya sebentar. Hanya sebentar, lalu saya sadar bahwa anak bukan milik kita. Hanya titipan dan amanah yang wajib dijaga dan dilindungi.

 

Saya lalu teringat, Kaltim. Disanalah rumah kami, disanalah nandaku Tamy dan saudaranya tumbuh, mengenal sekolah, teman, keluarga dan mimpi-mimpinya.

 

Sekarang, satu dari mimpi itu membawanya. Dia ke UNAIR, salah satu kampus terbaik di negeri ini.

 

Saya selalu percaya, bahwa pendidikan bukan sekadar mendapatkan ijazah. Bahwa, pendidikan adalah perjalanan keluar dari cara berpikir lama.

 

Anak yang pergi kuliah ke kota lain, sebenarnya bukan hanya berpindah alamat. Dia sedang belajar hidup mandiri, belajar mengambil keputusan, belajar bertemu orang yang berbeda dan yang paling penting, belajar mengenal dirinya sendiri.

 

Saya ingin, nanti dia pulang membawa sesuatu yang lebih besar. Bukan hanya gelar akademik, tetapi ilmu yang bermanfaat. Karena gelar bisa ditulis di belakang nama, namun manfaat hanya bisa ditulis oleh kehidupan.

 

Nama penerbangan saya, kemudian dipanggil. Saya berdiri, koper saya tarik perlahan. Tidak ada yang istimewa, hanya seorang ayah yang berjalan menuju pintu keberangkatan.

 

Saya sempat melihat ke luar, langit Juanda mulai berwarna jingga.

 

Sudah senja.

 

Saya terdiam beberapa saat, senja memang selalu punya cara sendiri untuk membuat orang berpikir.

 

Pesawat saya, sebentar lagi berangkat menuju balikpapan. Surabaya, akan saya tinggalkan. Namun, saya tahu ada sebagian hati saya yang masih tertinggal di kota ini.

 

Bukan di Juanda, bukan juga di kampus UNAIR. Melainkan, bersama seorang anak yang baru saja memulai perjalanan panjangnya.

 

Nandaku, Tamy mungkin tidak tahu bahwa sore itu ayahnya duduk cukup lama di ruang tunggu. Mungkin dia juga tidak tahu berapa banyak doa yang menyertai langkahnya.

 

Tidak apa-apa.

 

Memang tidak semua cinta orang tua, harus diketahui anak.

 

Sebab, ada cinta yang cukup disimpan dalam doa, ada kecemasan yang cukup disimpan dalam diam dan ada air mata yang lebih baik tidak diperlihatkan.

 

Karena menjadi ayah, kadang-kadang berarti tersenyum ketika sebenarnya ingin mengatakan, "jangan jauh-jauh, Nak."

 

Tetapi, kita tahu kalimat itu tidak boleh diucapkan. Maka yang keluar justru, "pergilah, belajarlah yang baik."

 

Begitulah, sore itu di Juanda. Saya, tidak sedang sekadar pulang ke Kaltim. Saya, hanya sedang mengembalikan seorang anak kepada kehidupannya.

 

Dulu, saya mengantarnya belajar berjalan. Hari ini saya mengantarnya belajar terbang.

 

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta yang paling sunyi dari seorang ayah. Membiarkan anaknya, terbang sambil diam-diam memastikan doa selalu menjadi langit tempat dia pulang.

 

Pesawat pun bergerak, perlahan meninggalkan landasan. Saya melihat Surabaya, dari balik jendela. Semakin kecil, semakin jauh, namun hati saya justru terasa semakin dekat. 

 

Karena sekarang, saya tahu bahwa jarak hanya memisahkan tempat. Tidak, dengan doa. ***