29 Apr 2026 | Dilihat: 251 Kali

PRODI Yang Kehilangan ARAH

noeh21
      

Opini
Oleh : Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

BEBERAPA hari ini, kita mendengar di berbagai media. Bahwa, ada kabar yang membuat banyak kampus mulai gelisah.

 

Beberapa program studi akan dievaluasi, bahkan mungkin dihapus. Alasannya cukup sederhana, tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Kalimatnya terdengar rasional dan bahkan terdengar modern. Namun, saya tidak langsung setuju.

 

Saya pernah bertemu seorang lulusan sastra, dia bekerja di perusahaan teknologi, bukan sebagai penulis. Melainkan, sebagai pengelola komunikasi produk.

 

Dia tidak belajar coding sewaktu kuliah dulu. Namun, dia mengerti manusia dan itu yang dibutuhkan.

 

Di lain waktu, saya juga sering bertemu sarjana pertanian. Dia tidak ke sawah, justru sukses di bisnis digital, menjual hasil tani lewat platform online. Dia tidak bekerja sesuai jurusannya. Tetapi, ilmunya tidak sia-sia.

 

Jujur, disitu saya mulai ragu. Apakah benar masalahnya ada pada program studi. Atau justru, pada cara kita memandang pendidikan?

 

Mungkin kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa kalau tidak langsung terserap pasar, berarti tidak relevan. Padahal, pasar itu berubah cepat sekali. Hari ini butuh A. Besok, bisa B.

 

Kalau kampus hanya mengejar pasar hari ini, maka kampus akan selalu tertinggal satu langkah. Dan lebih berbahaya lagi, kampus bisa kehilangan jiwanya.

 

Pendidikan tinggi bukan sekadar pabrik tenaga kerja. Kampus juga sebagai tempat membentuk cara berpikir. Cara, melihat dunia.

 

Kalau semua harus sesuai pasar, siapa yang akan menjaga ilmu-ilmu dasar?, Siapa yang akan merawat kebudayaan? Dan siapa yang akan berpikir panjang?.

 

Pasar jarang memikirkan itu, pasar hanya butuh yang cepat. Dan kampus, seharusnya tidak ikut-ikutan terburu-buru.

 

Saya tidak menolak evaluasi. Itu memang perlu. Tetapi, menghapus bukan satu-satunya jawaban. Mungkin, yang perlu dihapus bukan prodinya. Melainkan, cara mengajarnya. Mungkin, yang perlu diperbaiki bukan ilmunya. Tapi, jembatan antara ilmu dan dunia kerja.

 

Kampus harus belajar berbicara dengan industri. Tetapi, jangan sampai kehilangan suara sendiri. Karena, kalau semua diserahkan pada pasar, maka pendidikan bisa kehilangan arah.

 

Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya kehilangan prodi. Kita juga, kehilangan masa depan yang lebih luas dari sekadar pekerjaan.

 

Relevansi atau reduksi pendidikan

 

Ketika kampus didorong tunduk pada logika pasar dan melupakan fungsi intelektual nya, maka kampus sedang gelisah. Bukan karena kekurangan mahasiswanya, bukan pula karena minim anggaran. Melainkan, karena satu kata yang tiba-tiba menjadi ukuran segalanya "Relevansi".

 

Atas nama relevansi, sejumlah program studi mulai dipertanyakan. Bahkan, diusulkan untuk dihapus. Alasannya terdengar masuk akal, tidak sesuai kebutuhan pasar. Pertanyaannya, sejak kapan pasar menjadi penentu tunggal arah pendidikan?.

 

Pertanyaan ini penting, sebab dibalik rencana kebijakan yang tampak teknokratis itu, tersembunyi perubahan besar bahwa ada pergeseran cara pandang terhadap kampus. Dari ruang pengembangan ilmu, menjadi pemasok tenaga kerja.

 

Jika ukuran utama sebuah prodi adalah seberapa cepat lulusannya terserap di pasar industri, maka pendidikan tinggi telah direduksi menjadi persoalan distribusi tenaga kerja. Bukan lagi, pengembangan manusia.

 

Di titik ini, kata "relevansi" mulai kehilangan makna aslinya, sebab sudah berubah menjadi alat justifikasi. Padahal, relevansi dalam pendidikan tidak sesempit itu.

 

Masalahnya kemudian, bahwa pasar kerja bukan kompas yang stabil. Pasar berubah cepat, sering tak terduga. Hari ini, industri membutuhkan satu jenis keahlian. Besok, teknologi menggantikannya. Lusa, muncul pekerjaan baru yang bahkan belum dikenal hari ini.

 

Dalam situasi seperti itu, menjadikan kebutuhan pasar saat ini sebagai dasar penghapusan prodi adalah langkah reaktif. Bukan, strategis.

 

Pendidikan tinggi bekerja dalam horizon waktu yang berbeda. Mahasiswa yang masuk hari ini, akan lulus dalam empat atau lima tahun kedepan. Ketika itu terjadi, maka kebutuhan pasar yang dijadikan acuan, bisa saja sudah tidak relevan lagi. Kampus pun berisiko selalu terlambat, mengejar sesuatu yang sudah berubah.

 

Lebih jauh lagi, logika ini mengabaikan satu fakta penting bahwa hubungan antara pendidikan dan pekerjaan tidak selalu linear. Banyak lulusan bekerja diluar bidang studinya. Ini bukan kegagalan, melainkan adaptasi. Seorang lulusan sastra bisa masuk industri teknologi, sarjana filsafat bisa bekerja di dunia bisnis. Bahkan, lulusan pertanian bisa sukses di sektor digital.

 

Yang bekerja disini bukan sekadar ilmu spesifik, melainkan kemampuan berpikir, berkomunikasi dan memahami konteks. Ironisnya, justru keterampilan semacam ini sering lahir dari disiplin ilmu yang dianggap "tidak sesuai pasar".

 

Ketika ukuran keberhasilan dipersempit menjadi kesesuaian langsung antara jurusan dan pekerjaan, maka sebetulnya kita sudah mulai kehilangan gambaran besar tentang fungsi pendidikan.

 

Lebih berbahaya lagi, pendekatan ini mendorong kampus menjadi semacam pabrik tenaga kerja. Kurikulum, disusun mengikuti kebutuhan industri jangka pendek. Mahasiswa diproses agar siap pakai. Lulusan, diharapkan langsung produktif tanpa banyak penyesuaian.

 

Mungkin semacam efisien. Padahal, pendidikan tidak seharusnya sesederhana itu. Bahwa kampus bukan pabrik. Kampus, adalah ruang untuk membangun cara berpikir, bukan sekadar keterampilan teknis. Kampus, adalah tempat merawat ilmu-ilmu yang tidak selalu "laku" di pasar. Tetapi, penting bagi peradaban.

 

Jika semua harus tunduk pada logika pasar, maka ilmu-ilmu dasar dan humaniora akan menjadi korban pertama. Padahal, dari sanalah lahir refleksi kritis, etika dan pemahaman mendalam tentang manusia dan masyarakat.

 

Pasar tidak dirancang untuk menjaga hal-hal tersebut, sebab pasar bergerak berdasarkan permintaan dan keuntungan.

 

Di sisi lain, bukan berarti semua prodi harus dipertahankan tanpa evaluasi. Banyak yang memang bermasalah, kurikulum usang, metode pengajaran tidak relevan, minim koneksi dengan dunia kerja. Lulusan, tidak siap menghadapi realitas. Tetapi, ini persoalan kualitas. Bukan sekadar, eksistensi.

 

Menghapus prodi sering  menjadi jalan pintas dari masalah yang lebih dalam, lebih mudah menutup daripada memperbaiki, lebih cepat menghilangkan daripada mentransformasi.

Padahal, yang dibutuhkan justru sebaliknya.

 

Kampus perlu memperbarui kurikulum, membuka ruang lintas disiplin, memperkuat kolaborasi dengan industri tanpa kehilangan otonomi. Serta, menanamkan keterampilan dasar yang adaptif terhadap perubahan.

 

Link and match tidak seharusnya dimaknai sebagai penyesuaian penuh terhadap pasar. Hubungan antara kampus dan industri, harus bersifat dialogis. Bukan, subordinatif.

 

Pertanyaan mendasarnya adalah, siapa yang menentukan relevansi?

 

Jika sepenuhnya diserahkan pada pasar, maka pendidikan akan dikendalikan oleh kepentingan jangka pendek. Jika sepenuhnya oleh negara, ada risiko birokratisasi. Diantara keduanya, kampus justru kehilangan posisi sebagai pusat pemikiran independen.

 

Relevansi seharusnya dipahami secara lebih luas, tidak hanya ekonomi. Tetapi juga sosial, kultural dan intelektual.

 

Di titik ini, bahwa penghapusan prodi tampak sebagai solusi teknokratis untuk persoalan struktural. Sebab hal ini hanya menyasar gejala, bukan akar.

 

Sejatinya yang perlu dibenahi bukan sekadar daftar program studi, melainkan cara pandang terhadap pendidikan itu sendiri.

 

Apakah kampus akan tetap menjadi ruang pengembangan manusia seutuhnya. Atau, berubah menjadi sekadar pemasok tenaga kerja?. Jika jawabannya yang kedua, maka kebijakan ini mungkin konsisten. Namun, konsekuensinya jelas bahwa pendidikan akan kehilangan fungsi kritisnya. Tidak lagi memimpin perubahan, melainkan hanya mengikutinya.

 

Dan ketika pasar kembali berubah, maka yang pasti terjadi, kampus akan kembali panik. Menyesuaikan lagi, menghapus lagi. Tanpa pernah, benar-benar siap. Disitulah, ironi itu muncul.

 

Dalam upaya membuat pendidikan lebih relevan, kita justru berisiko mereduksinya menjadi sesuatu yang jauh lebih sempit. Dan ketika itu terjadi, maka yang hilang bukan hanya program studi. Melainkan, arah pendidikan itu sendiri. ***