16 Ags 2026 | Dilihat: 126 Kali

Paradoks Mutu Guru

noeh21
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

SAYA semakin yakin, bahwa persoalan pendidikan kita selama ini bukan semata-mata karena guru kurang bermutu.

 

Bisa jadi, kita terlalu sering meminta guru menjadi bermutu dengan cara yang justru menghabiskan tenaga nya.

 

Saya melihat, masalah itu tentu saja bukan dari ruang seminar, apalagi dari hasil hasil penelitian.

 

Saya melihatnya justru dari percakapan kecil dengan banyak guru. Dari wajah mereka ketika membuka laptop setelah jam mengajar selesai, bahkan dari tumpukan dokumen di meja kerjanya.

 

Saya pernah duduk bersama seorang guru, setelah jam pelajaran selesai. Pak guru itu, tidak langsung pulang.

 

Laptopnya dibuka, file demi file muncul di layar. Mulai dari modul ajar, program semester, penilaian hingga supervisi dan evaluasi.

 

Saya bertanya kepadanya “masih banyak pak?”

 

Dia, hanya tersenyum.

“masih, mas.”

 

Kemudian, pak guru itu mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat.

 

“Saya, mengajar 24 jam seminggu mas. Tetapi, pekerjaan administrasi bisa lebih dari 40 jam.”

 

Saya, tidak langsung menjawab.

 

Saya, justru membayangkan ruang kelasnya. 

 

Dua puluh empat jam mengajar, Empat puluh jam administrasi.

 

Lalu keluarganya, perjalanan pulang, istirahat, persiapan mengajarnya, belum lagi masalah pribadi yang tidak pernah masuk dalam daftar pekerjaan.

 

Kemudian kita meminta guru itu kreatif, inspiratif, inovatif, termasuk sabar dan profesional.

 

Saya, lalu bertanya dalam hati.

 

Masih berapa banyak tenaga yang tersisa untuk menjadi guru?

 

Saya selalu percaya, bahwa jika ingin melihat masa depan Indonesia, maka jangan terlalu lama melihat gedung sekolah.

 

Lihatlah, ruang kelasnya dan gurunya. Sebab gedung bisa diperbaiki, kursi bisa diganti apalagi kalau hanya jaringan internet, semua bisa dipasang. Tetapi, tidak ada teknologi yang bisa sepenuhnya menggantikan seorang guru yang memahami muridnya.

 

Saya pernah masuk ke sekolah yang fasilitasnya biasa saja, tidak ada yang istimewa dari bangunannya, tetapi suasana kelasnya hidup.

 

Murid-murid nya bertanya, Guru menjawab, kadang guru balik bertanya dan murid tertawa. Ada perdebatan kecil, dan ada proses.

 

Di sekolah lain, mungkin fasilitasnya jauh lebih baik, tetapi suasananya bisa berbeda.

 

Bisa jadi, murid-muridnya duduk. Guru berbicara, murid mencatat, bel berbunyi, lalu pelajaran selesai.

 

Secara administratif, semuanya terlihat sempurna, namun saya selalu bertanya. Apakah murid-murid itu benar-benar belajar?

 

Disinilah saya kira, persoalan mutu guru harus dilihat secara lebih jujur. Kita kadang terlalu mudah menyimpulkan bahwa kualitas pendidikan ditentukan oleh kompetensi guru.

 

Saya setuju itu, tetapi guru tidak bekerja di ruang hampa. Guru, bekerja di dalam sistem.

 

Ada kebijakan, ada kepala sekolah, ada budaya organisasi, tuntutan administrasi, kesejahteraan, fasilitas dan tentu saja ada lingkungan sosial yang beragam.

 

Semua itu ikut menentukan, apakah seorang guru mampu menggunakan kompetensinya atau tidak.

 

Bahwa kualitas guru memang penting, tetapi pertanyaan berikutnya yang jauh lebih penting. Apa yang dilakukan sistem, agar guru dapat menggunakan kualitas itu?

 

Sebab, guru yang hebat pun bisa kehilangan energi jika setiap hari harus berhadapan dengan pekerjaan yang tidak berhubungan langsung dengan pembelajaran.

 

Robert Merton dan konsep goal displacement, bahwa sebuah prosedur dibuat sebagai alat untuk mencapai tujuan, lalu perlahan-lahan alat itu menjadi tujuan.

 

Hal ini, yang terjadi selama ini. Guru membuat administrasi untuk memastikan pembelajaran berjalan, kemudian sibuk memastikan administrasinya lengkap. Lalu, membuat laporan agar pekerjaannya dapat dipertanggungjawabkan Kemudian, kelengkapan laporan justru menjadi ukuran keberhasilan.

 

Pada titik tertentu inilah, guru bisa terjebak pada sesuatu yang ironis bahwa guru lebih sibuk mendokumentasikan pembelajaran daripada memperbaiki pembelajaran.

 

Saya tidak sedang mengatakan, administrasi tidak penting.

 

Tentu tidak begitu.

 

Administrasi tetap diperlukan, sebab sekolah membutuhkan akuntabilitas. Pemerintah membutuhkan data bahkan kepala sekolah membutuhkan laporan.

 

Namun, segala sesuatu membutuhkan ukuran yang wajar sebab jika administrasi mengambil terlalu banyak waktu guru, maka kita sebenarnya sedang mengambil sesuatu yang jauh lebih mahal yakni waktu guru bersama murid. Dan waktu itu, tidak bisa dikembalikan.

 

Saya juga pernah bertemu kepala sekolah yang membuat saya berpikir berbeda, Kepala sekolah itu tidak banyak bicara tentang ketebalan laporan.

 

Dia lebih sering berbicara tentang kelas, Guru mana yang kesulitan, murid mana yang tertinggal, metode apa yang berhasil dan apa yang harus diperbaiki.

 

Kepala sekolah itu masuk ruang kelas, duduk 

di belakang.

 

Mengamati, kemudian berdiskusi dengan guru. Bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memperbaiki pembelajaran.

 

Saya melihat perbedaannya.

 

Guru-gurunya, lebih percaya diri. Mereka tidak merasa diawasi untuk dicari kesalahannya, justru merasa didampingi.

Muridnya juga tampak lebih hidup.

 

Saya kemudian memahami mengapa konsep instructional leadership penting dalam kepemimpinan sekolah.

 

Sebab, kepala sekolah bukan sekadar pengelola administrasi. Kepala sekolah adalah pemimpin pembelajaran.

 

Dan dalam pengalaman saya melihat ini, ternyata kepala sekolah seperti ini sering memberikan pengaruh yang lebih besar daripada serangkaian pelatihan yang hanya berlangsung beberapa jam.

 

Saya semakin percaya bahwa mutu guru tidak cukup dibicarakan dari empat kompetensi. Pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian.

 

Keempatnya, penting. Tetapi, guru adalah manusia. Bukan, mesin kompetensi.

 

Guru pedagogik yang baik, harus mampu memahami perbedaan murid. Ada murid yang cepat memahami, ada yang lambat, ada yang berani bertanya, ada juga yang takut salah bahkan ada yang sedang menghadapi persoalan keluarganya, tetapi tidak pernah mengatakannya.

 

Dan guru yang baik, mampu membaca semua itu.

 

Kompetensi profesional juga bukan sekadar menguasai materi. Guru matematika tidak cukup pintar matematika. Dia harus mampu membuat muridnya yang membenci matematika merasa bahwa matematika ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.

 

Dan kompetensi sosial, bukan sekadar ramah. Guru harus mampu membangun hubungan dengan murid, orang tua, sesama guru dan masyarakat.

 

Sementara kompetensi kepribadian sering justru terlihat dari hal-hal kecil. Cara guru memperlakukan muridnya, cara dia meminta maaf, mengakui kesalahan dan cara dia menepati janji.

 

Murid-murid mungkin lupa materi pelajaran, tapi mereka sering tidak lupa bagaimana gurunya memperlakukannya.

 

Ada satu percakapan lain yang saya ingat. Waktu itu, saya bertanya kepada seorang guru matematika, “sudah berapa tahun mengajar pak?”

 

Pak guru itu tersenyum ramah, lalu menjawab 

“saya tidak pernah menghitung, mas”.

 

“Kenapa pak?”, tanya saya.

 

“sebab yang saya tahu, setiap hari saya masih belajar,” katanya singkat.

 

Saya suka, jawaban itu.

 

Karena menurut saya, guru yang merasa sudah selesai belajar sebenarnya sedang berhenti menjadi guru.

 

Dunia anak sudah berubah, teknologi berubah, cara belajar berubah bahkan masalah sosial pun berubah.

 

Karenanya, guru harus terus belajar, tetapi belajar membutuhkan waktu. Dan disinilah, paradoks itu kembali muncul.

 

Kita meminta guru terus meningkatkan kompetensinya, tetapi waktu mereka justru banyak tersita untuk pekerjaan administratif.

 

Kita ingin guru inovatif, tetapi ruang untuk mencoba sering sempit. Kita ingin guru kreatif, tetapi kesalahan kadang diperlakukan seperti kegagalan.

 

Bahkan kita juga ingin guru inspiratif, tetapi kita lupa bahwa guru juga membutuhkan lingkungan kerja yang sehat.

 

*Herzberg* mengatakan bahwa  faktor-faktor yang memengaruhi motivasi kerja yakni kondisi dasar yang harus dipenuhi dan merasa di hargai.

 

Saya kira guru juga demikian.

 

Bahwa guru bukan hanya membutuhkan gaji, guru membutuhkan rasa aman, penghargaan, kesempatan berkembang, lingkungan kerja yang sehat.

 

Dan yang tidak kalah penting ada rasa bahwa pekerjaannya berarti.

 

Oleh sebab itu, saya agak khawatir ketika kata "pengabdian" digunakan terlalu sering untuk menutup pembicaraan tentang kesejahteraan.

 

Guru memang harus memiliki jiwa pengabdian. Tetapi pengabdian bukan alasan untuk membiarkan sistem bekerja secara tidak adil.

 

Guru boleh ikhlas, boleh mengabdi, namun kebijakan harus tetap rasional dan negara tetap berkewajiban menciptakan kondisi kerja yang manusiawi.

 

*Persoalan ketimpangan*

 

Guru di kota dan guru 

di daerah terpencil tidak bekerja dalam medan yang sama.

 

Ada sekolah yang memiliki fasilitas lengkap, tetapi tidak sedikit sekolah yang bahkan menghadapi persoalan jaringan internet, apalagi kekurangan guru.

 

Artinya, ketika kita membicarakan mutu guru, tanpa membicarakan distribusi guru, maka rasa-rasa nya tidak lengkap.

 

Guru yang mengajar 

di daerah dengan keterbatasan luar biasa dan tetap mampu membuat muridnya bersemangat belajar, itu artinya guru itu sedang menunjukkan bentuk profesionalisme yang sangat tinggi.

 

Mutu tidak selalu terlihat dari fasilitas. Kadang mutu justru terlihat dari kemampuan menghadirkan harapan 

ditengah keterbatasan.

 

Saya tidak terlalu percaya bahwa persoalan mutu guru dapat diselesaikan hanya dengan menambah pelatihan.

 

Saya setuju pelatihan itu penting, tetapi tidak cukup.

 

Kita membutuhkan sistem yang lebih sederhana. Administrasi yang proporsional, pelatihan yang sesuai kebutuhan.

Distribusi guru yang lebih adil, kepemimpinan kepala sekolah yang berpihak pada pembelajaran, budaya sekolah yang sehat. Dan tentu saja kesejahteraan yang membuat guru bekerja dengan tenang.

 

Diantara semua itu, tentu ada yang lebih penting yakni mengembalikan waktu guru kepada muridnya.

 

Sebab waktu adalah modal pendidikan yang paling sering kita abaikan. Setiap satu jam yang habis untuk pekerjaan yang tidak perlu berarti satu jam yang hilang dari persiapan mengajar. Dan satu jam yang hilang untuk membaca, satu jam yang hilang untuk berdiskusi dengan murid dan memahaminya.

 

Saya kembali teringat guru yang pernah saya temui itu. Pak guru itu masih duduk di depan laptopnya.

 

Jam sudah semakin sore.

Saya lalu bertanya,

“belum pulang, pak ?”

 

Dia hanya tertawa kecil.

 

“belum, masih ada laporan, mas.”

 

Saya kemudian melihat 

ke ruang kelas yang mulai kosong. Murid-murid nya sudah pulangan dan guru itu masih bekerja.

 

Agak ironis memang, pekerjaan yang belum selesai justru bukan mengajar. Administrasi.

 

Di situlah saya merasakan ada sesuatu yang harus kita benahi. Bukan karena guru tidak mau bekerja. Justru karena guru terlalu banyak bekerja.

 

Kita hanya perlu memastikan bahwa tenaga mereka lebih banyak digunakan untuk pekerjaan yang paling penting.

 

Mendidik murid.

 

Sebab ukuran mutu guru bukan seberapa tebal dokumen yang dapat di tunjukkan. Bukan berapa banyak sertifikat pelatihan yang tersimpan, bahkan bukan pula berapa banyak formulir yang berhasil 

di isi.

 

Ukuran yang paling mungkin justru ada pada satu pertanyaan.

 

Setelah belajar bersama gurunya hari ini, apakah seorang murid pulang dengan keyakinan bahwa dia mampu menjadi lebih baik ?

 

Kalau jawabannya iya, maka disitulah pendidikan bekerja. Dan kalau kita benar-benar ingin memperbaiki pendidikan di negeri ini, maka kita tidak perlu selalu memulai dengan membuat aturan baru.

 

Kita hanya cukup memulai dengan satu hal penting yaitu bagaimana memberi waktu bagi guru untuk kembali menjadi guru. Karena bangsa ini tidak kekurangan gedung sekolah, tidak juga kekurangan dokumen pendidikan.

 

Bahwa yang kurang adalah memastikan guru-guru itu kembali kepada murid-muridnya.***