13 Ags 2026 | Dilihat: 412 Kali

Rindu Pada Dua NANDAKU

noeh21
Tamy dan Alif masa kanak-kanak
      

Oleh: Dr. Muslimin M.

Akademisi

 

Ada kebahagiaan yang ternyata datang bersama kesunyian, saya baru merasakannya ketika Dua anak saya pergi mengejar masa depannya yang hampir bersamaan. 



Tamy di Surabaya
Alif di Makassar


Dua kota, dua kampus dan dua jalan kehidupan. Namun, satu hati seorang ayah yang setiap hari diam-diam merindukan keduanya.

 

Tamy, nandaku.

 

Hari ini engkau berada di Surabaya menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Airlangga, salah satu universitas terbaik di negeri ini.

 

Kadang saya masih begitu mengingatnya, anak yang dulu saya antar dan saya tunggu pulang sekolah, anak yang dulu masih harus diingatkan untuk belajar.

 

Sekarang sudah berada di kampus besar, UNAIR dengan membawa buku dan mimpi sendiri. Ada rasa bangga yang sulit saya ceritakan, tentu bukan hanya karena engkau kuliah di fakultas farmasi terbaik saat ini, bukan juga karena kampus itu memiliki nama besar. Melainkan, karena saya tahu bahwa dibalik langkahmu sampai kesana ada perjalanan panjang.

 

Ada belajar, lelah, doa dan tentu saja ada air mata yang mungkin tidak selalu saya lihat. Dan sebagai ayah, saya hanya bisa berkata dalam hati, “ternyata anakku sudah sejauh ini.”

 

Semakin jauh engkau berjalan, semakin saya sadar bahwa jarak juga punya harga.

 

Saya tidak lagi bisa melihat wajahmu setiap hari, tidak lagi mendengar suaramu dari kamar dan tidak lagi tahu bagaimana harimu kecuali engkau menceritakannya.

 

Maka ketika teleponmu masuk, sekecil apa pun percakapannya, bagi Ayah itu bukan percakapan biasa.

 

Itu, adalah obat rindu untuk ayah dan ibumu.

 

Alif, nandaku.

 

Engkau memilih jalan yang berbeda dengan kakakmu.

 

Kakak mu Tamy sedang menempuh jalan ilmu di kampus besar Surabaya, sementara engkau sedang menempuh jalan laut di PIP Makassar, salah satu institusi pendidikan pelayaran terbaik dan mumpuni di negeri ini.

 

Jalanmu, mungkin tidak banyak diceritakan orang. Tetapi, Ayah tahu jalan itu tidak mudah.

 

Ada disiplin, ada aturan, latihan, ada pagi-pagi yang mungkin terasa terlalu pagi, ada lelah yang harus engkau telan sendiri. Dan suatu hari, ada laut luas yang menunggumu.

 

Ayah tidak tahu akan sejauh mana langkahmu, tidak tahu berapa banyak pelabuhan yang akan engkau datangi dan tidak tahu juga berapa jauh engkau akan pergi dari rumah.

 

Tetapi Ayah tahu satu hal, bahwa laki-laki harus berani meninggalkan pantai untuk menemukan masa depannya.

 

Berlayar lah, Nak.

Tetapi, jangan pernah lupa pulang.

 

Nandaku Tamy dan Alif.

 

Kadang ayah melihat kalian sebagai dua perjalanan yang berbeda.

 

Tamy dengan buku-bukunya

Alif dengan lautnya

Tamy mengejar ilmu

Alif mengejar cakrawala

 

Tamy, sedang membangun masa depan melalui pendidikan. Alif, sedang mempersiapkan diri untuk suatu hari berdiri di atas kapal menghadapi luasnya dunia.

 

Berbeda jalan, tetapi sama-sama membuat Ayah bangga. Dan mungkin disitulah kebahagiaan seorang ayah.

 

Melihat anak-anaknya tidak harus menjadi seperti dirinya, tetapi menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

 

Namun, ada satu hal yang tidak pernah ikut pergi bersama kalian.

Rindu,

 

Tetap tinggal di rumah, kadang muncul ketika saya melihat kursi yang kosong, saat melewati kamar kalian dan ketika makan dan tiba-tiba teringat, “dulu mereka duduk disini.”

 

Rumah tidak berubah, tetapi penghuninya yang berubah. Dulu rumah dipenuhi suara, sekarang lebih banyak diam.

 

Dan ternyata, diam bisa sangat berisik bagi seorang ayah. Dengan kenangan, pertanyaan, kerinduan dan dengan doa-doa yang tidak pernah selesai.

 

Saya baru mengerti sekarang, bahwa menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan anak. Tetapi, tentang mempersiapkan diri untuk kehilangan sedikit demi sedikit.

 

Kita, mengajari nya berjalan. Lalu, suatu hari mereka berjalan meninggalkan kita. 


Kita, mengajarinya berani. Lalu, suatu hari keberanian itu membawa mereka jauh dari rumah.

 

Kita ingin,
mereka sukses.

 

Itulah mungkin pengorbanan paling sunyi dari seorang ayah, bangga melihat anak-anaknya pergi, sambil diam-diam berharap mereka cepat pulang.

 

Tamy,

 

Jangan pernah takut dengan jauhnya Surabaya, jalani kuliahmu dengan sungguh-sungguh, jaga dirimu, nama baikmu. Dan jangan pernah lupa, bahwa ada seorang ayah di rumah yang selalu bangga menyebut namamu.

 

Nandaku, Tamy dan Alif.

 

Kalian mungkin mengira, Ayah hanya ingin melihat kalian sukses saja.

 

Lebih dari itu.

 

Ayah ingin, melihat kalian menjadi manusia baik. Karena gelar bisa hilang, jabatan bisa berganti, kapal bisa berlayar bahkan kota bisa berganti. Tetapi, karakter akan mengikuti kalian sepanjang hidup.

 

Maka kejarlah ilmu, kejarlah cita-citamu. Tetapi, jangan kehilangan diri kalian.

 

Dan hari ini, ketika rumah kembali sunyi, Ayah ingin mengatakan sesuatu yang mungkin jarang Ayah ucapkan.

 

Ayah rindu.

 

Rindu kalian, rindu suara kalian, rindu melihat kalian di rumah dan rindu percakapan kecil yang dulu mungkin tidak pernah Ayah anggap penting.

 

Sekarang, baru terasa.

 

Ternyata, kebahagiaan itu sering bersembunyi di dalam hal-hal sederhana. Di meja makan, di ruang keluarga. Di pertanyaan,

“besok pergi jam berapa?”

atau “sudah makan?”.

 

Hal-hal kecil itu, ternyata menjadi sangat besar ketika anak-anak sudah jauh. Dan tentu saja, Ayah tidak akan meminta kalian pulang hanya karena Ayah rindu.

 

Tidak.

 

Pergilah, belajarlah.

 

Tamy, tuntaskan perjalananmu 

di UNAIR Surabaya.

 

Alif, selesaikan perjalananmu 

di PIP Makassar.

 

Buat Ayahmu, bangga. Bukan hanya dengan ijazah, tetapi dengan menjadi manusia yang baik.

 

Suatu hari nanti ketika kalian sudah berdiri sendiri, mungkin kalian akan memahami perasaan Ayah dan ibumu hari ini.

 

Bahwa ada kebahagiaan yang begitu besar, ketika melihat anak-anaknya berhasil. Meskipun, ada kesedihan kecil yang ikut tumbuh bersamanya.

 

Sebab, setiap langkah kalian menuju masa depan. Adalah, satu langkah yang semakin menjauh dari rumah. Dan kalau suatu hari kalian bertanya, “kenapa Ayah selalu menunggu”

 

Jawabannya, sederhana.

 

Karena seorang ayah mungkin bisa membiasakan diri dengan jarak, tetapi tidak pernah bisa membiasakan diri untuk berhenti mencintai anaknya.

 

Tamy dan alif nandaku.

 

Teruslah berjalan, teruslah belajar dan bermimpi.

 

Ayah, akan tetap disini. Mungkin semakin tua, semakin banyak rambut putih dan langkah semakin lambat. Tetapi, pintu rumah akan tetap terbuka. Doa akan tetap berjalan dan rindu, akan tetap tinggal.

 

Sebab kalian boleh memiliki kampus terbaik, boleh memiliki dunia yang luas dan boleh pergi sejauh apa pun.

 

Tetapi bagi Ayah dan ibumu,,

 

kalian tetap dua anak kecil yang dulu pulang berlari dan memanggil satu kata yang sampai hari ini masih paling ayah rindukan:

 

“Ayah..!”

 

Ayah bangga, kalian pergi.

Tetapi, Ayah rindu kalian pulang dengan keberhasilan.***